Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi yang menjadi penutup dan nabi
terakhir. Tidak ada nabi lagi setelah beliau. Sesuai dengan keterangan ayat
dibawah ini :
“Muhammad itu bukanlah seorang bapak dari seorang laki – laki
diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S Al-Ahzab : 40)
Segala aspek kehidupan secara sempurna telah dicontohkan Nabi
Muhammad SAW sebagai petunjuk untuk kita sebagai umat-Nya dalam menjalani hidup
untuk menggapai ridho-Nya.
Lalu, muncul sebuah pertanyaan “apa yang harus diteladani dari
Rasulullah ?” maka ayat Al – Qur’an menjawab dengan jelas dan tegas :
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat
dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S
Al-Ahzab : 21)
Ketahuilah, bahwa pada diri Rasulullah terdapat suri teladan
terbaik yang dibutuhkan oleh manusia dari berbagai aspek kehidupan. Dalam
sebuah buku tentang Akhak Karya Dr. Amr Khaled (motivator muslim dunia)
diterangkan bahwa “kita tidak bisa meneladani Nabi Isa a.s karena beliau
hanya bisa diteladani sebagai seorang perjaka yang hidup zuhud di dunia. Namun,
setelah kita berkeluarga bisakah kita meneladaninya ? Tentu saja tidak, karena
Nabi Isa a.s tidak berkeuarga. Kita juga tidak bisa meneladani Nabi Sulaiman
a.s, karena beliau hanya bisa kita teladani sebagai pengusaha kaya yang senang
bersedekah dan tidak lupa bersyukur. Namun bisakah kita meneladaninya,
sedangkan posisi kita sebagai orang yang tidak mampu ? Jawabannya tentu tidak,
karena Nabi Sulaiman a.s tidak pernah miskin”
Lalu siapa yang harus kita jadikan teladan untuk menjalani hidup
secara sempurna dalam menggapai ridho-Nya ?
Ya, jawabannya adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah merasakan
miskin, kaya, kuat, lemah, yang pernah diperintah dan memerintah, yang pernah
perjaka dan menikah, yang menjadi suami, seorang ayah, seorang kakek dan
sebagai pemimpin. Beliaulah yang seharusnya menjadi panutan dan idola kita
sepanang masa. Segala aspek kehidupan beliau sangat terbuka jelas ibarat sebuah
buku yang terbuka.
Lalu bagaimana keadaan akhlak para pemuda – pemudi muslim saat ini
? adakah keterkaitan antara sikap teladan Rasulullah dengan akhlak pemuda –
pemudi saat ini ?
Jawabannya, iya ada ! Kita harus merubah sikap dan pandangan para
pemuda dan pemudi muslim saat ini.
Mengapa harus pemuda/i ??
Ingatkah kita kepada salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang
tidak lain menjadi menantu beliau untuk anak terakhirnya yaitu Fatimah Az-Zahra
?
Ya, Syaidina Ali Bin Abi Thalib, seorang pemuda yang hebat dizaman
Rasulullah sampai masyarakat mekkah menjulukinya “Laa fatan illa Alliyan”
yang artinya tidak ada pemuda selain Ali !
Ingatkah kita sedikit kisah dari peristiwa Perang Badar ? Saat itu
ada kedua pemuda yang ingin sekali ikut di Perang Badar. Mereka adalah Muadz
Bin Amr (14 tahun) dan Muadz Bin Afra (13 tahun). Mereka bertekad ingin
membunuh Abu Jahal di perang ini, karena mereka tidak tega melihat cucuran
darah Rasulullah karena ulah Abu Jahal. Padahal pasukan lainnya berkata bahwa
Abu Jahal sulit untuk dijangkau. Tapi keduanya tetap optimis untuk bisa
menghabisi Abu Jahal.
Muadz Bin Amr berhasil memotong betis Abu Jahal dengan pedangnya,
padahal saat itu Abu Jahal dilindungi oleh bala tentaranya. Kemudain disusul
oleh Muadz Bin Afra yang menancapkan pedang dipunggung Abu Jahal. Dan di
sempurnakan oleh bantuan Abdurrahman Bin Auf.
Apa yang kedua pemuda ini korbankan untuk Rasulullah di Perang
Badar ini ? Muadz Bin Amr mengorbankan lengannya, karena pasukan musuh memotong
lengannya setelah dia memotong betis Abu Jahal.
Lalu bagaimana dengan Muadz Bin Afra ? Beliau meninggal di usia
muda pada perang – perang berikutnya.
Subhanallah !
Tidak mau kah kita sebagai pemuda mengikuti jejak Rasulullah yang mempunyai
akhlak sempurna ? Adakah kita berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan rasa
cinta kita kepada Rasulullah, seperti para sahabat terdahulu ? atau bagi
seorang pemuda zaman sekarang tidak mau kah menjadi penerus Salahuddin Al–Ayyubi,
yang berjuang keras merampas kembali Masjid Al-Aqsa dari para zionis ?
pernahkah kita sebagai pemudi mempunyai keinginan ketika telah memiliki anak
nanti, ingin menjadikannya seperti Salahuddin Al-Ayyubi ?
Adakah terbesit salah satu pertanyaan diatas, wahai pemuda dan
pemudi dizaman modern ?
Ya,mulailah dari masa muda ! mulai dari diri sendiri ! mulai dari
hal terkecil dan mulailah dari sekarang !
Nabi SAW bersabda :
“Aku diutus untuk
menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR Imam Malik, no. 1723)
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaknya” (HR. Abu Dawud)
Lalu bagaimana dengan ibadah ?
Dalam buku Akhlak, Dr. Amr Khaled menyatakan “akhlak memang
lebih penting, karena tujuan utama seluruh ibadah adalah membenahi akhlak”
Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa antara akhlak
dengan ibadah tidak boleh ada kesenjangan. Keduanya saling terikat, ada sebuah
contoh :
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang ingin melakukan sholat
dimasjid, pemuda tersebut memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko buku.
Tanpa diketahui pemuda itu, ternyata mobilnya meneteskan oli dihalaman toko
buku tersebut. Apakah ini bagian dari
akhlak yang baik ?
Kita tahu bahwa pemuda tersebut ingin melaksanakan sholat dimasjid,
tapi bagaimana jika pemilik toko buku itu tidak suka ada tetesan oli dari mobil
pemuda itu mengotori halaman tokonya ? Ini bukanlah akhlak yang baik, ingat
bahwa antara akhlak dengan ibadah tidak boleh terpisah. Ibarat malu dan iman
yang saling berkaitan dan akhlak adalah bagian dari iman.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi
adalah mengucapkan La ilaha illallah dan yang paling rendah menyingkirkan duri
dari jalan” (HR. Bukhhari, HR.Muslim, HR. Imam Ahmad)
Menyingkirkan duri dari jalan saja sudah menjadi salah satu cabang
iman, lalu bagaimana dengan keadaan contoh diatas, yang meneteskan oli mobil
tanpa sengaja dihalaman toko buku, bukankah ini adalah sebaliknya dari iman ?
Berikut ayat yang menjelaskan bahwa antara akhlak dan ibadah tidak
dapat dipisahkan :
Allah SWT, berfirman dalam Surat Al-Mukminin : 1-9, yang artinya
adalah :
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu yang
khusuk dalam shalatnya (ibadah) ; yang berpaling dari perbuatan sia-sia
(akhlak) ; yang menunaikan zakat (ibadah) ; yang menjaga kemaluan (akhlak)
kecuali kepada para istri atau sahayanya. Maka mereka tidak tercela, siapa yang
menyimpang dari itu, mereka itulah yang melampaui batas ; lalu yang memelihara
amanah dan janji (akhlak) ; serta yang memelihara shalat (ibadah)”
Mengapa perubahan akhlak yang lebih baik itu penting ?
Alasannya karena :
1.
Timbangan
yang paling berat di hari kiamat adalah akhlak yang baik, sebagaimana sabda
Nabi SAW :
“Tidak
ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak
yang baik” (HR. Abu Dawud)
2. Menjadi
orang yang paling dicintai oleh Allah SWT dan Rasulullah, sebagaimana hadist
berikut :
“Orang
yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku di hari kiamat adaah yang
paling baik akhlaknya” (HR. Imam Ahmad)
Seorang sahabat
bertanya kepada Nabi SAW “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling
dicintai Allah ?” Nabi SAW menjawab “Orang yang paling baik
akhlaknya” (HR. Imam Ahmad)
Tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai umat muslim, jika ingin
dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, maka jadilah manusia yang berakhlak
baik.
Terutama bagi para pemuda – pemudi muslim, jangan lupa bahwa akhlak
adalah bagian dari iman seseorang dan antara iman dengan malu saling berkaitan.
Jangan sampai, kita sebagai para
pemuda-pemudi muslim yang rajin beribadah tapi melupakan keadaan akhlak diri
kita. Ingat, tujuan beribadah adalah untuk menyempurnakan akhlak.
Mari kita rebut kembali kejayaan Islam terdahulu, dimana saat Islam
yang menguasai dunia. Jangan sampai setelah 14 abad perjalanan dakwah Islam,
para pemuda-pemudi muslim masih berada dibarisan belakang dalam pencapaian ilmu
dan bidang teknologi. Ubahlah pondasi paling dasar kita sebagai seorang muslim,
yaitu perbaiki akhlak ! luruskan niat dalam segala tindakan kita. Jadilah
pemuda-pemudi yang patut dijadikan contoh bagi sesama diantara kita. Jadilah
pemuda-pemudi muslim yang berprestasi dan berakhlak mulia.
Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Surat Ar-Rad ayat 11 :
“Allah tidak mengubah suatu kaum, sampai mereka sendiri mengubah
apa yang ada pada diri mereka” (QS. Ar-Rad : 11)
Akhlak yang baik, menunjukkan kualitas dan pribadi yang baik.