Jumat, 17 Mei 2013

HAKIKAT PENCIPTAAN WANITA


Tak seorang pun sanggup hidup tanpa cinta, cinta merupakan fitrah dan naluri. Naluri itulah yang menjadi sebab dunia ini tetap ada.
Naluri itu mulai ada sejak awal kehidupan manusia, sejak Adam a.s diciptakan. Nabi Muhammad saw. Menyebutkan bahwa ketika Adam a.s berada di surga, ia merasa kesepian. Ia merasa ada sesuatu yang kurang dari dirinya. Adam a.s merasa butuh kehadiran Hawa.
Saat Nabi Adam a.s sedang tidur, Allah Swt. Menciptakan dari tulang rusuknya Hawa. Kemudia Nabi Adam a.s terbangun dan melihat Hawa telah berada disampingnya. Nabi Adam a.s bertanya :
“Siapa kamu ?”
Hawa menjawab “Seorang perempuan”
Nabi Adam a.s kembali bertanya “Siapa namamu ?”
“Hawa”
Nabi Adam a.s “Mengapa kamu diciptakan ?”
Hawa menjawab “Agar engkau merasa tentram bersamaku”

Dari kisah diatas, dapat dikatakan bahwa Hawa adalah simbol ketenangan. “Wahai anak Adam dan anak turun Adam yang tinggal di bumi hingga Hari Kiamat, engkau tidak akan merasa tenang dan tentram kecuali berada di samping Hawa”
Itulah yang diajarkan Islam tentang hubungan cinta kasih…sungguh luar biasa Islam itu, subhanallah




Dalam kutipan “Buku Pintar Akhlak” Bab 12 Tentang Jatuh Cinta

Jangan Remehkan Allah



Ibn Al – Qayyim bertutur “kegembiraanmu dengan dosa lebih Allah murkai daripada dosa itu sendiri. Tawamu saat melakukan dosa lebih Allah murkai ketimbang dosa itu sendiri. Tidak ada rasa malu kepada malaikat di sebelah kiri dan kanan, padahal mereka melihat dan mencatat amalmu, lebih Allah murkai disbanding dosa itu sendiri” 

Kutipan dalam "Buku Pintar Akhlak" Bab 16 Tentang Menjauhi Dosa - Meninggalkan Maksiat Menikmati Rahmat 

Senin, 13 Mei 2013

Di sepanjang kaki ini berjalan ...


Haaaiii malam ini aku akan berkisah tentang mereka yang berjuang kuat untuk hidup..
Terkadang saat aku berjalan menyusuri tempat tujuan kemana entah yang ingin aku tuju, baik ke kampus, ke masjid, ke rumah teman atau pulang dari suatu tempat. Setapak demi setapak aku melangkah, kedua mata ini tertuju kesemua arah. Melihat setiap sudut tempat yang aku pijak.
Apa yang aku lihat, terekam dan terasa dalam hati dan ingatan ku. Entah aku melihat mereka yang sedang menyemir sepatu, mereka yang sedang mengadahkan tangannya meminta sedikit pemberian dari manusia lain, mereka yang berjalan dengan satu tongkat, mereka yang berjalan meraba – raba, mereka yang tidur di sudut tiang jalan, mereka yang memegang gitar dan kecrekan, para pedagang yang diam menanti pembeli, fenomena – fenomena seorang ibu yang memarahi anaknya karena menangis terus bahkan di salah satu stasiun di tengah kota ada suami – istri yang tidak bisa melihat dengan memiliki 4 orang anak yang Alhamdulillah bisa melihat dengan anak yang paling kecil berada pada gendongan kain lusuh sang ibu dan masih banyak lagi mereka – mereka yang tidak seberuntung kita.
Saat di metromini, di dalam kereta ekonomi, distasiun, di sudut – sudut jalan dan pasar, dan banyak lagi tempat – tempat yang aku temui. Tidak sampai disitu, para pelayan atau pesuruh pekerja kasar yang ternyata mereka rela meninggalkan keluarga yang dicintainya demi sesuap nasi dan selembar uang sepuluh ribu. Tidak sebanding bukan dengan perasaan yang mereka korbankan demi nilai uang yang hanya sepuluh ribu ???
Kadang aku terdiam dan tertegun, memikirkan perasaan mereka. Yaaa baru hanya bisa memikirkan belum bisa membantu. Ingin rasanya mengajak mereka membuat suatu koperasi agar hidup dan martabat mereka lebih layak. Bagaimana mereka memikirkan “apa yang mau dibeli nanti ?”, “nanti di mall enaknya makan apaa yaa ?”, atau “beli baju yang paling bagus dimana ya ?” karena dengan sudah bisa makan dua kali dalam sehari saja sudah sangat hebat untuk mereka.
Tapi ternyata Allah mengaruniakan hati yang lapang dan kuat untuk mereka menjalani kejamnya hidup. Perasaan ku seolah terbawa bagaimana jika aku seperti mereka ?? tapi kenapa manusia bahkan termasuk diriku sendiri masih belum bisa bersyukur total atas karunia dan keberuntungan yang dimiliki ? memang sifat insan itu tidak pernah puas dan menjadi tempat yang salah.
Kawan, hidup itu indah bagi kita tapi belum tentu indah bagi mereka. Mereka tidak pernah memikirkan kebahagiaan, yang mereka pikirkan adalah sebungkus nasi agar tidak lapar. Pikiran mereka hanya terbatas pada apa yang mereka makan, tidak untuk hal – hal lain diluar itu. Kata siapa mereka tidak punya mimpi ?? mereka justru sangat pede dengan mimpi – mimpi mereka. Saat aku selesai melaksanakan sholat Ashar di salah satu stasiun ketika hendak menunggu kereta, sekelompok anak kecil sambil memegang bekas botol aqua yang berisi batu – batu kecil untuk dijadikan kecrekan yang aku perkirakan berumur kurang lebih 6 sampai 9 tahun, menceritakan apa cita – cita mereka. Salah satu anak itu bilang “aku ingin jadi ibu guru, biar  bisa ngerasain naik kereta AC”. Aku tertegun, diam dan miris. Mereka bilang “ingin jadi guru biar bisa naik kereta AC”. Sedang aku ?? aku bisa sesuka hati ku ingin naik kereta AC kapan saja dengan tujuan yang aku inginkan tanpa harus mencari uang dulu atau bahkan menjadi guru. Cita – cita mereka sungguh sangat mulia dan sederhana bukan ??
Seketika mata ini berair, menetes perlahan. Sungguh sampai pada dasar hati, perkataan tulus dan polosnya anak kecil pinggir jalan itu. Sungguh ini benar – benar pembelajaran yang amat berarti dan tidak akan pernah terlupakan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini .. Aamiin

Dari ingatan dan hati yang masih lumpuh, kadang terlupa betapa besar karunia - Nya menghampiri setiap hati - hati insan yang tidak pernah luput dari kesalahan