Hari demi hari sudah terlewati
ditempat ini, banyak kejadian yang hadir disetiap harinya.. Aku memang tidak kuliah
di institusi besar seperti UI, ITB, ITS, UGM, UNPAD atau yang lainnya, kampusku
juga sudah berbeda statusnya dengan STAN, STIS, STSN, STP atau sejenisnya yang
berstatus sekolah tinggi kedinasan, yaa walaupun kampus ku berstatus sama
dulu..Aku juga bukan dari STAIN atau institusi perguruan tinggi keislaman.. Aku
menuntut ilmu, di bilangan Jakarta Selatan, tepatnya di kebayoran Baru, pas
belakang RSPP Jakarta, Poltekkes Kemenkes Jakarta II Jurusan Kesehatan Lingkungan
Disebuah pemukiman penduduk
Jakarta, yang mungkin sangat bertolak belakang sekali saat aku datang kesini.
Kenapa ? yup, tepat dibelakang RSPP yang ‘notabene’ salah satu RS besar di
Indonesia, ada pemukiman penduduk atas dengan rumah berderet rapih, bertembok
tinggi, pagar yang sangat tegas dengan berjajar mobil – mobil mewah, dan
pastinya juga dilengkapi pekarangan hijau nan sejuk di depan rumah, tapi ada
kesepian disini, hening tanpa suara. Yang aku dengar hanya suara – suara pagar
tegas mereka berbunyi saat dibuka, dan bunyi suara klakson mobil, tanpa ada
kata terucap.. Tapi disisi lain, masih ada pemukiman penduduk yang sederhana,
berajajar dempet, dengan tembok cukup kokoh dan pagar pembatas yang cukup
sederhana juga. Mereka sangat kekeluargaan, ramah, kompak dan terdapat jiwa –
jiwa pembangun untuk sesama.
Bisa dikatakan, kampusku lah yang
mungkin jadi pembatas wilayah diantara keduanya. Saat aku berjalan,
melangkahkan kaki ke depan sudah pasti terlihat hilir mudik mobil tanpa henti,
tapi saat aku keluar dan melangkahkan kaki ke belakang sudah terlihat anak –
anak kecil yang bermain – main, ditemani ibu – ibu yang sedang berkumpul dan
bercerita riang. Sungguh keramaian yang sederhana tapi ini istimewa. Suara –
suara mereka mewarnai perkuliahan dikampus ku. Penduduk yang ramah dan murah
senyum itu, menemani kami setiap harinya.
Aku tidak tahu, apakah teman –
teman ku sadar akan keadaan ini atau tidak ? Tapi yang jelas, pasti mereka
tahu. Semakin aku yakin, bahwa ini adalah tempat terbaik yang Allah kasih untuk
ku menuntut ilmu. Aku seperti berada ditengah – tengah, yaa.. saat aku menatap
ke atas aku terbayang seperti mereka, tapi Allah menyadarkan kecongkakan ku
seketika untuk tetap ingat mereka yang tidak seberuntung orang – orang diatas
itu.
Aku sadar keadaan ini bukan untuk
dibanding – bandingkan, bukan untuk dipilih atau untuk selalu jadi topik dalam
kehidupan. Tapi keadaan ini secara tidak langsung, memberi gambaran indah dalam
hidupku. Yaa, sangat indah, karena Allah gak mau aku sombong ataupun menyerah,
aku bersyukur dengan keadaan ini, karena disinilah aku jadi bisa menangkap
kehidupan yang sesungguhnya. Kawan, tanpa adanya perbedaan kita tidak tahu mana
yang sama, perbedaan tidak pernah salah, mungkin hanya sudut pandang kita saja
yang berbeda. Hanya ketaqwaan-lah yang menjadi pembeda abadi antara satu
manusia dengan manusia yang lain.
Aku berharap untuk selanjutnya, aku
tetap berada dalam garis tengah kehidupan. Yaa, agar aku bisa melihat ke atas
dan tidak lupa menunduk ke bawah, agar aku bisa melihat kedepan tanpa melupakan
yang lalu. Karena hidup itu bukan sekedar untuk ‘sukses’ saja, tapi harus
bermanfaat bagi orang lain. Kalau kata Pak Jamil Azzaini, bahwa hidup itu harus
SUKSES MULIA, selain sukses juga harus mulia agar bermanfaat bagi orang – orang
sekitar. Seperti sabda Rasulullah SAW “………Dan sebaik-baik manusia adalah orang
yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)
khairunnas anfa'uhum linnas ..