Sabtu, 26 Oktober 2013

Nasihat Rasululullah untuk Pelajar

Berikut ini adalah hadits yang berisi nasihat Rasulullah kepada sorang anak muda Ibnu Abbas, untuk memperkuat spirit keimanan. Dengan keimanan yang kuat, anak akan merasakan ma’rifatullah (mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dengan pengenalan yang benar), muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah), ma’iyyatullah (merasa disertai oleh Allah), ihsanullah (dan merasakan kebaikan Allah yang melimpah), nashrullah (pertolongan Allah). Dengan nasihat tersebut diharapkan anak memiliki sandaran spiritual yang kokoh.

“Wahai Abbas, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat ini sebagai nasihat bagimu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Dia pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan selalu berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta (urusan dunia dan akhirat), mintalah kepada Allah, dan apabila menginginkan pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ketahuilah, bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang dituliskan oleh Allah  di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi).

Selasa, 22 Oktober 2013

Pesan Rasulullah Tentang Akhlak Untuk Pemuda/i


Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi yang menjadi penutup dan nabi terakhir. Tidak ada nabi lagi setelah beliau. Sesuai dengan keterangan ayat dibawah ini :

  
“Muhammad itu bukanlah seorang bapak dari seorang laki – laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S Al-Ahzab : 40)
 Segala aspek kehidupan secara sempurna telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk untuk kita sebagai umat-Nya dalam menjalani hidup untuk menggapai ridho-Nya. 
Lalu, muncul sebuah pertanyaan “apa yang harus diteladani dari Rasulullah ?” maka ayat Al – Qur’an menjawab dengan jelas dan tegas :
 
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S Al-Ahzab : 21) 
Ketahuilah, bahwa pada diri Rasulullah terdapat suri teladan terbaik yang dibutuhkan oleh manusia dari berbagai aspek kehidupan. Dalam sebuah buku tentang Akhak Karya Dr. Amr Khaled (motivator muslim dunia) diterangkan bahwa “kita tidak bisa meneladani Nabi Isa a.s karena beliau hanya bisa diteladani sebagai seorang perjaka yang hidup zuhud di dunia. Namun, setelah kita berkeluarga bisakah kita meneladaninya ? Tentu saja tidak, karena Nabi Isa a.s tidak berkeuarga. Kita juga tidak bisa meneladani Nabi Sulaiman a.s, karena beliau hanya bisa kita teladani sebagai pengusaha kaya yang senang bersedekah dan tidak lupa bersyukur. Namun bisakah kita meneladaninya, sedangkan posisi kita sebagai orang yang tidak mampu ? Jawabannya tentu tidak, karena Nabi Sulaiman a.s tidak pernah miskin

Lalu siapa yang harus kita jadikan teladan untuk menjalani hidup secara sempurna dalam menggapai ridho-Nya ?
Ya, jawabannya adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah merasakan miskin, kaya, kuat, lemah, yang pernah diperintah dan memerintah, yang pernah perjaka dan menikah, yang menjadi suami, seorang ayah, seorang kakek dan sebagai pemimpin. Beliaulah yang seharusnya menjadi panutan dan idola kita sepanang masa. Segala aspek kehidupan beliau sangat terbuka jelas ibarat sebuah buku yang terbuka.
Lalu bagaimana keadaan akhlak para pemuda – pemudi muslim saat ini ? adakah keterkaitan antara sikap teladan Rasulullah dengan akhlak pemuda – pemudi saat ini ?
Jawabannya, iya ada ! Kita harus merubah sikap dan pandangan para pemuda dan pemudi muslim saat ini.
Mengapa harus pemuda/i ??
Ingatkah kita kepada salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang tidak lain menjadi menantu beliau untuk anak terakhirnya yaitu Fatimah Az-Zahra ?
Ya, Syaidina Ali Bin Abi Thalib, seorang pemuda yang hebat dizaman Rasulullah sampai masyarakat mekkah menjulukinya “Laa fatan illa Alliyan” yang artinya tidak ada pemuda selain Ali !
Ingatkah kita sedikit kisah dari peristiwa Perang Badar ? Saat itu ada kedua pemuda yang ingin sekali ikut di Perang Badar. Mereka adalah Muadz Bin Amr (14 tahun) dan Muadz Bin Afra (13 tahun). Mereka bertekad ingin membunuh Abu Jahal di perang ini, karena mereka tidak tega melihat cucuran darah Rasulullah karena ulah Abu Jahal. Padahal pasukan lainnya berkata bahwa Abu Jahal sulit untuk dijangkau. Tapi keduanya tetap optimis untuk bisa menghabisi Abu Jahal.
Muadz Bin Amr berhasil memotong betis Abu Jahal dengan pedangnya, padahal saat itu Abu Jahal dilindungi oleh bala tentaranya. Kemudain disusul oleh Muadz Bin Afra yang menancapkan pedang dipunggung Abu Jahal. Dan di sempurnakan oleh bantuan Abdurrahman Bin Auf.
Apa yang kedua pemuda ini korbankan untuk Rasulullah di Perang Badar ini ? Muadz Bin Amr mengorbankan lengannya, karena pasukan musuh memotong lengannya setelah dia memotong betis Abu Jahal.
Lalu bagaimana dengan Muadz Bin Afra ? Beliau meninggal di usia muda pada perang – perang berikutnya.
Subhanallah !
Tidak mau kah kita sebagai pemuda mengikuti jejak Rasulullah yang mempunyai akhlak sempurna ? Adakah kita berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan rasa cinta kita kepada Rasulullah, seperti para sahabat terdahulu ? atau bagi seorang pemuda zaman sekarang tidak mau kah menjadi penerus Salahuddin Al–Ayyubi, yang berjuang keras merampas kembali Masjid Al-Aqsa dari para zionis ? pernahkah kita sebagai pemudi mempunyai keinginan ketika telah memiliki anak nanti, ingin menjadikannya seperti Salahuddin Al-Ayyubi ?
Adakah terbesit salah satu pertanyaan diatas, wahai pemuda dan pemudi dizaman modern ?
Ya,mulailah dari masa muda ! mulai dari diri sendiri ! mulai dari hal terkecil dan mulailah dari sekarang !
 Nabi SAW bersabda :
Aku diutus untuk  menyempurnakan kemuliaan akhlak(HR Imam Malik, no. 1723)
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Abu Dawud)
 Lalu bagaimana dengan ibadah ?
Dalam buku Akhlak, Dr. Amr Khaled menyatakan “akhlak memang lebih penting, karena tujuan utama seluruh ibadah adalah membenahi akhlak
Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa antara akhlak dengan ibadah tidak boleh ada kesenjangan. Keduanya saling terikat, ada sebuah contoh :
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang ingin melakukan sholat dimasjid, pemuda tersebut memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko buku. Tanpa diketahui pemuda itu, ternyata mobilnya meneteskan oli dihalaman toko buku tersebut.  Apakah ini bagian dari akhlak yang baik ?
Kita tahu bahwa pemuda tersebut ingin melaksanakan sholat dimasjid, tapi bagaimana jika pemilik toko buku itu tidak suka ada tetesan oli dari mobil pemuda itu mengotori halaman tokonya ? Ini bukanlah akhlak yang baik, ingat bahwa antara akhlak dengan ibadah tidak boleh terpisah. Ibarat malu dan iman yang saling berkaitan dan akhlak adalah bagian dari iman. 

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi adalah mengucapkan La ilaha illallah dan yang paling rendah menyingkirkan duri dari jalan” (HR. Bukhhari, HR.Muslim, HR. Imam Ahmad) 
Menyingkirkan duri dari jalan saja sudah menjadi salah satu cabang iman, lalu bagaimana dengan keadaan contoh diatas, yang meneteskan oli mobil tanpa sengaja dihalaman toko buku, bukankah ini adalah sebaliknya dari iman ? Berikut ayat yang menjelaskan bahwa antara akhlak dan ibadah tidak dapat dipisahkan :

Allah SWT, berfirman dalam Surat Al-Mukminin : 1-9, yang artinya adalah : 
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu yang khusuk dalam shalatnya (ibadah) ; yang berpaling dari perbuatan sia-sia (akhlak) ; yang menunaikan zakat (ibadah) ; yang menjaga kemaluan (akhlak) kecuali kepada para istri atau sahayanya. Maka mereka tidak tercela, siapa yang menyimpang dari itu, mereka itulah yang melampaui batas ; lalu yang memelihara amanah dan janji (akhlak) ; serta yang memelihara shalat (ibadah)


Mengapa perubahan akhlak yang lebih baik itu penting ?
Alasannya karena :
1.  Timbangan yang paling berat di hari kiamat adalah akhlak yang baik, sebagaimana sabda Nabi SAW :
Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik” (HR. Abu Dawud)
2.  Menjadi orang yang paling dicintai oleh Allah SWT dan Rasulullah, sebagaimana hadist berikut :
Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku di hari kiamat adaah yang paling baik akhlaknya” (HR. Imam Ahmad)

Seorang sahabat bertanya kepada Nabi SAW “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah ?” Nabi SAW menjawab “Orang yang paling baik akhlaknya” (HR. Imam Ahmad)
Tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai umat muslim, jika ingin dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, maka jadilah manusia yang berakhlak baik.
Terutama bagi para pemuda – pemudi muslim, jangan lupa bahwa akhlak adalah bagian dari iman seseorang dan antara iman dengan malu saling berkaitan.  Jangan sampai, kita sebagai para pemuda-pemudi muslim yang rajin beribadah tapi melupakan keadaan akhlak diri kita. Ingat, tujuan beribadah adalah untuk menyempurnakan akhlak.
Mari kita rebut kembali kejayaan Islam terdahulu, dimana saat Islam yang menguasai dunia. Jangan sampai setelah 14 abad perjalanan dakwah Islam, para pemuda-pemudi muslim masih berada dibarisan belakang dalam pencapaian ilmu dan bidang teknologi. Ubahlah pondasi paling dasar kita sebagai seorang muslim, yaitu perbaiki akhlak ! luruskan niat dalam segala tindakan kita. Jadilah pemuda-pemudi yang patut dijadikan contoh bagi sesama diantara kita. Jadilah pemuda-pemudi muslim yang berprestasi dan berakhlak mulia.
Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Surat Ar-Rad ayat 11 : 
“Allah tidak mengubah suatu kaum, sampai mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Ar-Rad : 11)
Akhlak yang baik, menunjukkan kualitas dan pribadi yang baik.