Jumat, 22 Juni 2012

Ada Makna Tersirat dari Pemberian-Nya

Assalamu’alaikum.Wr.Wb…


“Dan tertakdir menjalani, segala kehendak-Mu Ya Rabbi, ku berserah ku berpasrah hanya pada-Mu Ya Rabbi”.

Itu adalah beberapa kata dari lirik lagunya Opick feat Melly Goeslaw, ingeet dong sama lagu religinya mereka..

Semakin bertambah umur, ternyata semakin terasa rasa syukur yang Allah kasih ya. Gak nyangka sudah sebesar ini, sudah melewati masa – masa dulu, sudah bisa ambil pelajaran dari kesalahan yang dulu – dulu, dan selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi. Amin

Allah itu punya banyak cara untuk menyalurkan rasa sayang-Nya kepada makhluk yang Dia ciptakan. Terkadang dengan cara kehebatan yang Dia kasih, dengan kesulitan yang Dia kirimkan, dengan kejadian yang kita gak inginkan. Tapi terkadang kita sebagai makhluk yang di ciptakan-Nya kurang mengerti akan itu semua, termasuk aku sendiri yang pernah mengalami.

Tapi ternyata seiring dengan berjalannya waktu, mulai mengerti apa siih maksud dari semua yg Allah berikan padahal sesuatu itu yang tidak kita inginkan ??? 
Yup “Allah membrikan apa yg kita butuhkan, bukan yang kita inginkan” mungkin kata – kata ini bukan kata yang asing didengar. Tapi makna dari kata ini yang mungkin agak sulit kita terima ketika apa yang kita minta tidak di kasih sama Allah. Aku yakin, makna dari kata tersebut masih tersembunyi saat itu, namun dengan seiring berjalannya waktu akan terurai makna tersebut satu persatu. 
Dan pasti terbesit dalam hati “ooo.. jadi gini ya kenapa Allah kasih ini ke aku, skrng aku baru tau” atau “untuung ajah Allah kasih jalan kesini, coba ajah kalau kesana, haduuuh bisa gawat. Makasii ya Allah” hahha terkadang kata - kata itu keluar secara tidak sadar dari pikiran dan hati kita. Nah kalau sudah sampai di kesadaran ini tanpa kita sadari, kita sudah bisa memaknai kata – kata yang diatas tadi..

Intinya, jawaban dari semua makna yang tersirat dari Allah itu akan terungkap seiring dengan berjalannya waktu. Ini sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya, alasannya simpel, agar kita sebagai umat-Nya, mau belajar, mau mencari dan akhirnya menyadari bagaimana arti sebuah keikhlasan, tuuh kan saking sayangnya Allah sama kita :D hehe

Ayooo kawan semangat, Allah tau yang terbaik untuk kita. Sama sama saling menguatkan, mengingatkan dan memberi ilmu ya .. KEEP FIGHT ! 


Wa’alaikumussalam.Wr.Wb….



Kamis, 31 Mei 2012

18 Tahun :)

Assalamu'alaikum. Wr. Wb...
Alhamdulillah, Allah masih kasih kesempatan di usia ku yg baru saja menginjak 18 tahun. Lika – liku kehidupan dengan rasanya yang nano – nano sudah terlewatkan sebagian. Dan harus siap menjalani tantangan hidup selanjutnya di usia – usia berikutnya
Insya Allah target – target hidup sudah tersusun rapih di buat, tinggal prosesnya yang sedang berjalan dan hasil yg menunggu untuk di genggam erat nanti. Gak terasa dan gak menyangka ternyata sudah 18 tahun ya hidup di dunia ini hehe . Sudah kuliah semester 2 pula, dan lebih gak nyangkanya lagi di dunia kesehatan . Maklum dulu waktu kecil sedikit terinspirasi sama mama yang ngurusin keuangan di kantornya, ini jadi alasan pengen banget ke Akuntansi atau Perpajakan. Tapi Allah Yang Maha Menguasai Segalanya berkehendak lain, di Lauhful Mahfuz sana, sudah ditulis dalam kitab kehidupan, kalau yang namanya Andini Laras Putri itu berperan di bidang kesehatan.
          Di usia yang baru menginjak 18 tahun ini, seolah kehidupan menuntun ke arah kedewasaan. Ya, menginjak dunia baru = dunia dewasa dan meninggalkan kehidupan remaja dengan sifat – sifatnya. Perjalanan hidup yang sesungguhnya akan terurai satu persatu di dunia dewasa ini, hilir mudik cobaan bercampur rintangan datang, singgah, pergi silih bergantian. Mama dan Ayah selalu bila “Jangan takut untuk berspekulasi dalam hidup ini”, semangat mereka tercurah ke dalam darah dan batin anaknya. Aku sangat beribu - ribu bersyukur, mempunyai orang tua terbaik seperti mereka *dan aku rasa semua anak pasti merasa seperti ini kan ? hehe
          Di dunia dewasa ini, seperti mengganti sepatu yang lama dengan yang baru. Menukar dengan sepatu yang lebih kuat dan gagah untuk bisa melangkah kedepan, tapi jangan lupa tetap membawa sepatu lama yang digunakan saat berada di dunia remaja hehe supaya kita gak lupa siapa kita yang dulu, inget loh kawan kita gak akan menjadi yang sekarang kalau kita tidak melawati masa yang dulu – dulu *sebuah analogi sederhana. Hhhmm pembelajaran hidup yang sulit dimengerti, terkadang susah juga untuk di lewati. Tapi kalau gak di lewatin gak akan bisa sampai ke masa – masa yang berikutnya. Jadii, mau sesusah atau sesulit apapun juga harus ditempuh.Semangaaat kawaaaan :D
          Keyakinan akan cinta dan niat karena Allah harus tangguh menancap di kalbu setiap muslim Kalau kata pak ustadz itu “Allah dulu, Allah lagi, Allah teruuuuussssss” dan kalau kata group penyanyi cilik Shaka “Allah, Allah, tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah …….” ada lagi liriknya gini “Allah yang ku cintai, Allah yang ku sayangi” hehe *intermezzo
Jadi, kesimpulannya adalah “Di setiap pertambahan usia, di saat itulah harus diiringi pertambahan iman *Amin. Berusaha untuk lebih istiqomah lagi, karena inget ya kawan bukan “semoga panjang umur” tapi faktanya “jatah umur yang terus berkurang” karena kaki ini melangka kearah yang pasti yaitu kematian sebagai jembatan melangkah ke kehidupan yang sebenarnya. Saling mengingatkan dalam kebaikan , mohon bantu aku ke dalam keistiqomahan. Insya Allah, kita semua selalu berada dalam jalan yang diridoi-Nya.. Amin

Semakin bertambahnya umur, semakin dekat langkah kita bertemu Allah SWT atau semakin berkurangnya jatah umur kita, bukan panjang umur, kita harus menyadari kuasa-Nya itu.
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.....

Sabtu, 31 Maret 2012

Tasbih Cinta Alunan Syahdu Muhasabah Cinta Ilahi :)

Assalamu'alaikum Wr. Wb..

Wahai wanita sholehah, jangan risau akan jodoh kita :)
karena muslimin yang bijaksana takkan terpaut pada wanita hanya pada :
- kecantikan
- lirikan senyuman
- pada bicara manja yang menggoda atau,
- pujuk rayu seorang wanita yang meruntuhkan imannya

Telah tercatat seungkap nama lelaki di Lauhful Mahfuz untuk kita, hanya pribadinya ditentukan oleh sejauh mana ketinggian pribadi kita :) Jika kita tetap di atas jalan yang di ridhoi, Insya Allah si dia (jodoh kita) turut di jalan yang sama :) Amiiiiin :D

Jika Allah sampai saat ini belum mengirimkan cinta yang halal dari si dia (ikhwan) untuk kita, itu berarti Allah ingin agar kita lebih mencintai-Nya dan lebih dekat dengan-Nya dari pada dekat dengan makhluk-Nya :)

Terus berusaha memperbaiki diri dan mensholehkan diri agar kelak layak di jemput sebagai bidadari seorang pengeran yang berkuda iman :) Amin Ya Allah

Wassalamu'alaikum Wr. Wb...

Jumat, 03 Februari 2012

Cerita Singkat "Kisah Cinta Fatimah Az-Zahra dengan Syaidina Ali bin Abi Thalib" ..

Assalamu'alaikum Wr. Wb.. 
Teman - teman ayo baca cerita singkat tentang cinta di zaman Nabi :)) 

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)


Semoga bisa bermanfaat dan jadi pedoman buat kita ya kawan :) Wassalam ^^

Beberapa Nasihat Dari Seorang Wanita Sukses...

Assalamu'alaikum Wr. Wb...

Hallo teman teman, kita posting informasi bagus yuk :) semoga bermanfaat ya kawan ^^

Seorang ibu yang moderat menasihati anak perempuannya pada hari pernikahannya dengan dibarengi oleh senyum dan tangis bahagianya. Ia mengatakan :

"Wahai anak perempuanku, engkau sekarang akan menempuh hidup yang baru, yaitu kehidupan yang tiada tempat padanya bagi ibumu, ayahmu, atau seseorang dari saudara - saudaramu. Di dalamnya engkau akan menjadi teman hidup suamimu yang tidak menginginkan ada seorang pun ikut campur dengannya terhadapmu sekalipun ia berasal dari darah dadingmu sendiri.

Jadilah engkau istrinya, jadilah engkau ibu untuknya, dan jadikanlah dia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam hidupnya dan segalanya dalam dunianya. Ingatlah selalu bahwa seorang lelaki itu, siapapun dia adanya, bagaikan bayi besar yang dengan sedikit kata - kata manis akan dibuatnya merasa bahagia. Jangan kau jadikan dia merasakan dengan mengawinimu berarti dia telah meninggalkan keluarga dan kerabatnya. Sesungguhnya perasaan ini adakalanya dia rasakan pula pada dirinya bahwa dia telah meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan keluarganya demi kamu. Akan tetapi, perbedaan antara dia dan kamu adalah perbedaan antara seorang lelaki dan seorang wanita. Wanita selamanya merindukan keluarga dan rumah tempat kelahiran, tempat ia tumbuh, tempat ia dibesarkan, dan tempat ia belajar. Akan tetapi, ia harus membiasakan dirinya dengan kehidupannya yang baru. Dia harus menyesuaikan kehidupannya dengan lelaki yang kini telah menjadi suaminya, pemeliharanya, dan ayah bagi anak - anaknya. Inilah dunia yang baru.

Wahai anak perempuanku, inilah masa kini dan masa mendatangmu. Inilah keluargamu yang akan kamu bangun berdua bersama dengan suamimu. Sesungguhnya ibu tidak meminta agar melupakan ayah dan ibumu serta saudara - saudara mu, karena sesungguhnya mereka tidak akan melupakanmu selamanya, wahai sayangku. Bagaimana bisa seorang ibu melupakan belahan hatinya ? Akan tetapi, ibu meminta kepadamu agar cintailah suamimu, hiduplah bersamanya, dan jalanilah hidupmu dengan bahagia bersamanya."

Ambilah teladan dari Asiah karena Kesabarannya
Ambilah teladan dari Khadijah karena Kesetiaanya
Ambilah teladan dari Aisyah karena Kejujurannya
Ambilah teladan dari Fatimah karena Keteguhannya

Kesenangan dan kesusahan dilewati bersama.. saat seorang wanita telah di nikahi oleh lelakinya, sesungguhnya Surganya bukan hanya pada ibunya saja, melaikan ada pada kepatuhan terhadap suaminya :))


 by : Wahai Kaum Wanita, Jadilah Wanita Yang Paling Bahagia :))

Awal Tinta Kehidupan :)

Selembar kertas putih terhampar di atas meja
hampir tertiup angin karena tak ada satu benda kecilpun yang menghalang
sebuah pulpen pun tergeletak disamping kertas itu
seorang gadis kecil menghampiri dengan langkah girangnya

gadis itu menarik bangku yang berada dekat meja
tanpa ragu, dia ambil pulpen hitam itu dan menarik kertas putihnya
tanpa bingung, dia goreskan tinta hitam itu diatas kertas
ternyata rasa ketidaktahuannya tidak membuat gadis kecil itu tidak mengerti

kata pertama yang dia tuliskan adalah kata "mama"
terangkai dari setiap baris di kertas itu
mama mama mama mama ....
sampai dari tulisan yang miring dan akhirnya tersusun rapih

dengan girang gadis itu menghampiri mamanya yang sedang masak
langkah kakinya yang berlari - lari kecil hampir mengagetkan mamanya
dengan senangnya dia memperlihatkan tulisan itu
mamanya tersenyum, tertawa geli melihat kelincahan tulisan anaknya

dengan sangat lembut mamanya memberi tanggapan
gadis itupun hanya terdiam dan mendengarkan
tanggapan yang diberikan tanpa mematahkan semangat anaknya
gadis itu kembali berlari ke tempat semula dengan memegang kertas tadi

dia mencari kertas kosong di laci bawah meja
dengan rasa tidak sabar, ditemukan buku besar yang kosong
tanpa pikir panjang, dia merobek bagian tengahnya
dan kembali duduk tepat di depan meja

dengan penuh semangat gadis itu berlatih menulis
ditemani senyuman ringan dari bibir kecilnya
tanpa rasa mengeluh gadis itu menekan tinta hitam
merangkai tulisan dari baris atas hingga ke bawah
dengan rasa senang gadis itu mecoret kertas kosong
menyusun kata yang sederhana tapi amat sangat bermakna di sepanjang hidup setiap makhluk :)

kata mama yang sederhana, kata mama yang cukup singkat
tapi bermakna memberi semangat dan doa setiap saat :)
aku mencintai mu karena Allah ^^ 

by : Andini Laras Putri



Sabtu, 28 Januari 2012

Ketika Cinta Dapat Mengubah Musibah Menjadi Muhibah...


Jangan biarkan cinta berubah menjadi hampa
Jangan nodai kesucian cinta dengan kesemuan semata
Cinta indah saat kita mengindahkannya, namun cinta menjadi tak indah saat cinta mengecewakannya..

Ada kata dalam satu cinta ku,
Saat aku menyadari betapa besar keagungan Allah
Saat aku menyadari betapa indah jalan hidupku
Saat aku menyadari siapa diri ku sebenarnya

Dan ada kata dalam satu cintaku, saat ku merasakah kefitrahan cintaMu
Kutangguhkan semua perasaan ku kepadaMu
Kucurahkan isi hati ku kepadaMu
Kusandarkan pilihan hati ku KepadaMu
Berharap Engkau memberi restu..

Didalam hati perasaan cintaku,
Ku menjaga malu ku karena Mu
Ku ikuti sunnah Nabi Mu
Berharap ridho Mu menghampiriku

Cinta mempunyai dua sisi
Sisi yang tajam dan sisi yang manis
Tajamnya cinta akan terasa ketika pisau itu menusuk
Menusuk hati yang selama ini terjaga oleh sebuah kepercayaan

Manisnya cinta, saat cinta seperti madu
Ketika madu itu terasa manis
Seperti manisnya kepercayaan yang terjaga

Cinta memang sesuatu yang lumrah, tapi cinta begitu fitrah untuk kita semua - hambluminnas dan habluminallah :) Amin..


                                                                                               
                                                                                      By : Andini Laras Putri