Jumat, 14 Desember 2012

Inilah Kami, Sebagai Sebenar – Benarnya Seorang Wanita



Dari Mu’adz bin Jabal  Radhiyallahu’anhu berkata : 

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata : Tiada seorang istri menggodai suaminya melainkan bidadari calon istrinya di surga berkata ‘Jangan ganggu dia, semoga Allah membunuhmu, ia hanya sementara di sisimu dan hampir meninggalkanmu untuk kembali kepada kami’ “ (HR. At – Tirmidzi)
Bidadari cemburu kepada wanita di dunia, karena wanita di dunia unggul atas mereka (bidadari). Keunggulan yang digambarkan Rasulullah sebagai kelebihan yang Nampak atas sesuatu yang tidak terlihat.
Berikut kisahnya yang di riwayatkan HR. Ath Thabrani dari Ummu Salamah
Aku bertanya : “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama antara wanita dunia ataukan bidadari yang bermata jeli ?”
Rasulullah menjawab : “Wanita – wanita dunia lebih utama dari pada bidadari – bidadari  seperti kelebihan yang nampak dari apa yang tidak terlihat”
Aku bertanya : “Mengapa wanita – wanita di dunia lebih utama daripada bidadari – bidadari ?”
Rasulullah menjawab : “Karena sholat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya diwajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut – sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya”
 
“Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita” (HR. Al – Bukhari dari Abu Hurairah)

Wanita…
Bukan dari tulang ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri ia dicipta
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi 

Untuk para lelaki, mereka harus tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan keadilan syari’at Allah. Menjaga tanpa mengekang, menghormati kebebasan namun tetap melindungi, serta memberikan rasa nyaman sekaligus rasa aman. Ia menjadikannya rusuk kiri. Dekat ketangan untuk dilindungi, dekat kehati untuk dicintai..

Dari buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu, karya Salim A. Fillah”

Sabtu, 28 Juli 2012

Andini Laras Putri :)

Asslamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakhatuh
           
            Wanita Islam yang ber-Tuhankan Allah SWT, ber-Nabikan Muhammad SAW dan berkitab Al-Qur’an lahir di Jakarta, hari senin tanggal 30 Mei 1994 tepat pada pukul 9 malam di RS Budi Kemuliaan – Jakarta Pusat. Dia adalah wanita keturunan Palembang – Sunda yang lahir premature (8 bulan). Kejadian itu semua telah tercatat sebagai tulisan awal dalam kitab-Nya, Lauhul Mahfuz di pohon Arsy (singgahsana).
            Andini Laras Putri, nama sederhana yang mempunyai sejuta harapan yang tersirat dalam arti nama tersebut. Mama cerita, kalau ayah ku sampai dzikir sepanjang malam untuk memantapkan nama ini, subhanallah. Andini, diambil dari kata “DIEN” yang artinya adalah agama. Sebenarnya kedudukan wanita dalam Islam secara garis besar ada 3, yaitu : 

Yang pertama, kedudukannya sebagai “Seorang Ibu”. Saat dia menjadi seorang ibu, syurga berada dibawah telapak kakinya
Yang kedua, kedudukannya sebagai “Seorang Istri”. Saat dia menjadi seorang istri, dia melengkapi separuh agama (DIEN) suaminya
Yang ketiga, kedudukannya sebagai “Seorang Anak Perempuan”. Dia membuka pintu syurga untuk ayah dan saudara laki-lakinya dengan amal dan akhlak shalihahnya. Amin 

Mungkin ayah berharap dengan nama “Andini” yang terinspirasi dari kata “Dien” (berasal dari kata Ad-diin = Agama, Ad-diinul islaam mempunyai arti Agama Islam), aku bisa menjadi wanita yang senantiasa mengikuti aturan-aturan Allah SWT dan bisa melengkapi separuh agama pasangan hidupku disuatu saat nanti Amin. Dan masih banyak lagi sebutan untuk wanita selain yang tiga utama tersebut. Saat anak perempuan menikah nanti, selain sebagai seorang istri dan calon ibu, dia juga menyandang tahta sebagai seorang menantu, tante, kakak/adik ipar, saudari ipar dan memegang peranan penting dalam mengkader anak-anaknya dan keluarganya nanti, agar kelak menjadi manusia yang hebat, sholeh/ah, cerdas dan berguna bagi banyak orang Amin. Itu alasannya mengapa tegak dan majunya suatu negara dipegang oleh wanita, karena wanitalah yang melahirkan keturunan yang sholeh/ah, karena wanitalah syurga itu ada, karena wanita jugalah yang ternyata bisa menyilaukan dunia termasuk menjerumuskan laki-laki kedalam kemaksiatan (Nau’dzubillah). Bahkan saat Imam Syafi'i rahimahumullah yang hafal Al-Qur'an, hafalannya hilang ketika dia melihat betis wanita dan ingat dalam Al-Qur'an di ceritakan bahwa fitnah pertama Kaum Bani Israil adalah wanita. Ini sudah menjadi bukti, bahwa kaum Adam bisa terpedaya oleh kaum Hawa. Sungguh Maha Besar Allah menciptakan wanita sehebat itu
 
Laras, mempunyai makna “Lurus atau Sejalan”. Mama cerita, bahwa harapan dari arti nama ini adalah kepatuhan akan keinginan orangtua dengan anaknya tanpa sedikit paksaan. Mama juga berharap dengan arti kata “Lurus” bisa menjadi rambu-rambu norma dan kaidah dalam nilai-nilai keislaman. Amin. Dan Putri yang berarti adalah “Wanita”, nama yang bagus bukan ):

Sesuatu yang luar biasa, ketika Allah menakdirkan aku turun kedunia. Melalui wanita kuat yaitu mamaku, Allah mengutusku dengan cara yang sangat luar biasa bahkan mungkin hanya sebagian wanita yang mengalami proses kelahiran yang cukup rumit. Ya, mama cerita kalau aku dilahirkan dalam keadan premature 8 bulan. Saat itu setelah mama shalat dzuhur di istana mungilnya, mama kaget ada air yang keluar. Ya, tepat sekali air itu adalah air ketuban atau dalam istilah ilmu biologi semacam Amnion dan Kation yang berfungsi melindungi janin dalam rahim. Semakin mama bergerak, semakin deras air itu keluar. Subhanallah, Allah Maha Besar yang memberi kekuatan kepada mama ku saat itu. Mama cerita, kalau dulu mama dibantu tentangga ke RS Budi Kemuliaan karena saat itu ayah sedang kerja. Perjuangan mama tidak hanya sampai disitu, perjalanan macet ditempuh agar bisa menyelamatkan aku. Hingga sampai RS, air itu keluar terus menerus namun dokter menyuntik mama dan Alhamdulillah air itu berhenti keluar sekitar pukul 5 sore. Dokter yang menangani mama, bilang bahwa harus dilahirkan sekarang karena air ketubannya sudah pecah tapi dokter menyarankan mama ku untuk istirahat beberapa jam agar tenaganya bisa terkumpul kembali. Subhanallah bukan.

Tepat jam 9 malam, aku dilahirkan di salah satu ruang operasi rumah sakit tersebut. Setelah lahir, akupun tidak bersama teman-teman ku dalam satu ruangan khusus bayi yang baru lahir. Aku terpisah sendiri di Inkubator dalam suatu ruangan. Inkubator memang ditujukan kepada bayi yang baru lahir premature. Tubuh ku kecil, kira-kira sebesar botol aqua ukuran 1, 5 L. Ayah bercerita, dalam inkubator tubuhku yang mungil di penuhi oleh selang-selang kecil. Bahkan setelah keluar dari rumah sakit, selang 2 hari akupun dilarikan kembali ke rumah sakit karena nenek ku langsung member ku pisang hehe *maklum cucu pertama di keluarga mama ku, jadi mungkin nenek masih belum banyak tahu. Ya aku kembali kerumah mungil ku lagi, selama kurang lebih 7 hari dalam inkubator. Aku dirawat kembali, mama bener-bener gak kuat berpisah dengan anak pertamanya yang lahir premature dan harus dilarikan kembali kerumah sakit. 

Mama cerita, setelah beberapa hari dirumah sakit, ayah dan kakek menjemputku. Dan dokter yang menangani ku pun bilang sudah tidak sanggup lagi dan bingung harus memberikan selang lagi kebagian tubuh ku. Ayah pun cerita, reflek ayah menjawab “Mati dan hidupnya anak saya, ditangan saya”, ayah dan kakek bawa aku pulang dalam keadaan pasrah. Dirumahpun, mama dan keluarga sudah menunggu yang dibanjiri air mata. Mama sempat putus asa, bagaimana caranya agar aku bisa sehat. Ya, usaha lagi, mama dan ayah membawa ku ke dokter specialis anak. Akupun sudah minum obat di usia ku yang seharusnya baru dilahirkan (9 bulan). Mama pasrah, dan mama sempat bingung karena mama tidak bisa memberikan ASI Eksklusif kepada anaknya. Ya, dulu mama terkena tumor payudara jinak saat umur 16 tahun yang harus dioperasi dan membuat mama tidak bisa memberi ASI Eksklusif kepada anak-anaknya. 

Akhirnya, solusi yang mama dan ayah lakukan adalah membuat air yang dibacakan Surat Yasin sebelum diminum sama aku. Mama dan ayah benar-benar mengharapkan kedahsyatan air tersebut. Dan subhanallah, Allah menjawab semua itu. Aku sehat layaknya seperti bayi-bayi yang baru lahir. Yang suka nangis tengah malam dan tidur di siang hari, yang mengeluarkan cairan (gumoh), bayi yang kulitnya merah dan tambah memerah kalau menangis. Semua kenikmatan itu mama dan ayah rasakan juga. Perjuangan mama ku sangat luar biasa dan hebat, I’LL NEVER STOP LOVING YOU, MY MOM. Maka dari itu, sampai sekarang saat malam jum’at, aku tidak lupa membuat air yasin yang diminum oleh satu keluarga. Air dahsyat dan benar-benar dahsyat Subhanallah…

Dan sekarang gadis muslimah ini, tumbuh selayaknya manusia-manusia normal lainnya dan menjalani perputaran roda kehidupan dengan rasanya yang nano-nano.Aku sangat bersyukur kepada Allah, yang telah menggariskan jalan hidupku dan menuliskan setiap kejadian dalam kitab ku :) Aku bersyukur karena aku selalu dihadirkan di tengah-tengah orang yang saling menyayangi. Keluarga, sahabat, teman, guru, tutor, dosen, murrobi/ah, yang sangat luar biasa. Dan aku yakin, mereka yang dikirimkan dalam hidup kita walau hanya sebentar pasti tetap tercatat dalam kitab kita yang Allah tuliskan bukan kebetulan saja. Seperti kutipan Harun Yahya, "menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yg terjadi di dunia ini secara kebetulan"


Wassalamu'alaium Wr.Wb...

Jumat, 22 Juni 2012

Ada Makna Tersirat dari Pemberian-Nya

Assalamu’alaikum.Wr.Wb…


“Dan tertakdir menjalani, segala kehendak-Mu Ya Rabbi, ku berserah ku berpasrah hanya pada-Mu Ya Rabbi”.

Itu adalah beberapa kata dari lirik lagunya Opick feat Melly Goeslaw, ingeet dong sama lagu religinya mereka..

Semakin bertambah umur, ternyata semakin terasa rasa syukur yang Allah kasih ya. Gak nyangka sudah sebesar ini, sudah melewati masa – masa dulu, sudah bisa ambil pelajaran dari kesalahan yang dulu – dulu, dan selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi. Amin

Allah itu punya banyak cara untuk menyalurkan rasa sayang-Nya kepada makhluk yang Dia ciptakan. Terkadang dengan cara kehebatan yang Dia kasih, dengan kesulitan yang Dia kirimkan, dengan kejadian yang kita gak inginkan. Tapi terkadang kita sebagai makhluk yang di ciptakan-Nya kurang mengerti akan itu semua, termasuk aku sendiri yang pernah mengalami.

Tapi ternyata seiring dengan berjalannya waktu, mulai mengerti apa siih maksud dari semua yg Allah berikan padahal sesuatu itu yang tidak kita inginkan ??? 
Yup “Allah membrikan apa yg kita butuhkan, bukan yang kita inginkan” mungkin kata – kata ini bukan kata yang asing didengar. Tapi makna dari kata ini yang mungkin agak sulit kita terima ketika apa yang kita minta tidak di kasih sama Allah. Aku yakin, makna dari kata tersebut masih tersembunyi saat itu, namun dengan seiring berjalannya waktu akan terurai makna tersebut satu persatu. 
Dan pasti terbesit dalam hati “ooo.. jadi gini ya kenapa Allah kasih ini ke aku, skrng aku baru tau” atau “untuung ajah Allah kasih jalan kesini, coba ajah kalau kesana, haduuuh bisa gawat. Makasii ya Allah” hahha terkadang kata - kata itu keluar secara tidak sadar dari pikiran dan hati kita. Nah kalau sudah sampai di kesadaran ini tanpa kita sadari, kita sudah bisa memaknai kata – kata yang diatas tadi..

Intinya, jawaban dari semua makna yang tersirat dari Allah itu akan terungkap seiring dengan berjalannya waktu. Ini sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya, alasannya simpel, agar kita sebagai umat-Nya, mau belajar, mau mencari dan akhirnya menyadari bagaimana arti sebuah keikhlasan, tuuh kan saking sayangnya Allah sama kita :D hehe

Ayooo kawan semangat, Allah tau yang terbaik untuk kita. Sama sama saling menguatkan, mengingatkan dan memberi ilmu ya .. KEEP FIGHT ! 


Wa’alaikumussalam.Wr.Wb….



Kamis, 31 Mei 2012

18 Tahun :)

Assalamu'alaikum. Wr. Wb...
Alhamdulillah, Allah masih kasih kesempatan di usia ku yg baru saja menginjak 18 tahun. Lika – liku kehidupan dengan rasanya yang nano – nano sudah terlewatkan sebagian. Dan harus siap menjalani tantangan hidup selanjutnya di usia – usia berikutnya
Insya Allah target – target hidup sudah tersusun rapih di buat, tinggal prosesnya yang sedang berjalan dan hasil yg menunggu untuk di genggam erat nanti. Gak terasa dan gak menyangka ternyata sudah 18 tahun ya hidup di dunia ini hehe . Sudah kuliah semester 2 pula, dan lebih gak nyangkanya lagi di dunia kesehatan . Maklum dulu waktu kecil sedikit terinspirasi sama mama yang ngurusin keuangan di kantornya, ini jadi alasan pengen banget ke Akuntansi atau Perpajakan. Tapi Allah Yang Maha Menguasai Segalanya berkehendak lain, di Lauhful Mahfuz sana, sudah ditulis dalam kitab kehidupan, kalau yang namanya Andini Laras Putri itu berperan di bidang kesehatan.
          Di usia yang baru menginjak 18 tahun ini, seolah kehidupan menuntun ke arah kedewasaan. Ya, menginjak dunia baru = dunia dewasa dan meninggalkan kehidupan remaja dengan sifat – sifatnya. Perjalanan hidup yang sesungguhnya akan terurai satu persatu di dunia dewasa ini, hilir mudik cobaan bercampur rintangan datang, singgah, pergi silih bergantian. Mama dan Ayah selalu bila “Jangan takut untuk berspekulasi dalam hidup ini”, semangat mereka tercurah ke dalam darah dan batin anaknya. Aku sangat beribu - ribu bersyukur, mempunyai orang tua terbaik seperti mereka *dan aku rasa semua anak pasti merasa seperti ini kan ? hehe
          Di dunia dewasa ini, seperti mengganti sepatu yang lama dengan yang baru. Menukar dengan sepatu yang lebih kuat dan gagah untuk bisa melangkah kedepan, tapi jangan lupa tetap membawa sepatu lama yang digunakan saat berada di dunia remaja hehe supaya kita gak lupa siapa kita yang dulu, inget loh kawan kita gak akan menjadi yang sekarang kalau kita tidak melawati masa yang dulu – dulu *sebuah analogi sederhana. Hhhmm pembelajaran hidup yang sulit dimengerti, terkadang susah juga untuk di lewati. Tapi kalau gak di lewatin gak akan bisa sampai ke masa – masa yang berikutnya. Jadii, mau sesusah atau sesulit apapun juga harus ditempuh.Semangaaat kawaaaan :D
          Keyakinan akan cinta dan niat karena Allah harus tangguh menancap di kalbu setiap muslim Kalau kata pak ustadz itu “Allah dulu, Allah lagi, Allah teruuuuussssss” dan kalau kata group penyanyi cilik Shaka “Allah, Allah, tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah …….” ada lagi liriknya gini “Allah yang ku cintai, Allah yang ku sayangi” hehe *intermezzo
Jadi, kesimpulannya adalah “Di setiap pertambahan usia, di saat itulah harus diiringi pertambahan iman *Amin. Berusaha untuk lebih istiqomah lagi, karena inget ya kawan bukan “semoga panjang umur” tapi faktanya “jatah umur yang terus berkurang” karena kaki ini melangka kearah yang pasti yaitu kematian sebagai jembatan melangkah ke kehidupan yang sebenarnya. Saling mengingatkan dalam kebaikan , mohon bantu aku ke dalam keistiqomahan. Insya Allah, kita semua selalu berada dalam jalan yang diridoi-Nya.. Amin

Semakin bertambahnya umur, semakin dekat langkah kita bertemu Allah SWT atau semakin berkurangnya jatah umur kita, bukan panjang umur, kita harus menyadari kuasa-Nya itu.
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.....

Sabtu, 31 Maret 2012

Tasbih Cinta Alunan Syahdu Muhasabah Cinta Ilahi :)

Assalamu'alaikum Wr. Wb..

Wahai wanita sholehah, jangan risau akan jodoh kita :)
karena muslimin yang bijaksana takkan terpaut pada wanita hanya pada :
- kecantikan
- lirikan senyuman
- pada bicara manja yang menggoda atau,
- pujuk rayu seorang wanita yang meruntuhkan imannya

Telah tercatat seungkap nama lelaki di Lauhful Mahfuz untuk kita, hanya pribadinya ditentukan oleh sejauh mana ketinggian pribadi kita :) Jika kita tetap di atas jalan yang di ridhoi, Insya Allah si dia (jodoh kita) turut di jalan yang sama :) Amiiiiin :D

Jika Allah sampai saat ini belum mengirimkan cinta yang halal dari si dia (ikhwan) untuk kita, itu berarti Allah ingin agar kita lebih mencintai-Nya dan lebih dekat dengan-Nya dari pada dekat dengan makhluk-Nya :)

Terus berusaha memperbaiki diri dan mensholehkan diri agar kelak layak di jemput sebagai bidadari seorang pengeran yang berkuda iman :) Amin Ya Allah

Wassalamu'alaikum Wr. Wb...

Jumat, 03 Februari 2012

Cerita Singkat "Kisah Cinta Fatimah Az-Zahra dengan Syaidina Ali bin Abi Thalib" ..

Assalamu'alaikum Wr. Wb.. 
Teman - teman ayo baca cerita singkat tentang cinta di zaman Nabi :)) 

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)


Semoga bisa bermanfaat dan jadi pedoman buat kita ya kawan :) Wassalam ^^

Beberapa Nasihat Dari Seorang Wanita Sukses...

Assalamu'alaikum Wr. Wb...

Hallo teman teman, kita posting informasi bagus yuk :) semoga bermanfaat ya kawan ^^

Seorang ibu yang moderat menasihati anak perempuannya pada hari pernikahannya dengan dibarengi oleh senyum dan tangis bahagianya. Ia mengatakan :

"Wahai anak perempuanku, engkau sekarang akan menempuh hidup yang baru, yaitu kehidupan yang tiada tempat padanya bagi ibumu, ayahmu, atau seseorang dari saudara - saudaramu. Di dalamnya engkau akan menjadi teman hidup suamimu yang tidak menginginkan ada seorang pun ikut campur dengannya terhadapmu sekalipun ia berasal dari darah dadingmu sendiri.

Jadilah engkau istrinya, jadilah engkau ibu untuknya, dan jadikanlah dia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam hidupnya dan segalanya dalam dunianya. Ingatlah selalu bahwa seorang lelaki itu, siapapun dia adanya, bagaikan bayi besar yang dengan sedikit kata - kata manis akan dibuatnya merasa bahagia. Jangan kau jadikan dia merasakan dengan mengawinimu berarti dia telah meninggalkan keluarga dan kerabatnya. Sesungguhnya perasaan ini adakalanya dia rasakan pula pada dirinya bahwa dia telah meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan keluarganya demi kamu. Akan tetapi, perbedaan antara dia dan kamu adalah perbedaan antara seorang lelaki dan seorang wanita. Wanita selamanya merindukan keluarga dan rumah tempat kelahiran, tempat ia tumbuh, tempat ia dibesarkan, dan tempat ia belajar. Akan tetapi, ia harus membiasakan dirinya dengan kehidupannya yang baru. Dia harus menyesuaikan kehidupannya dengan lelaki yang kini telah menjadi suaminya, pemeliharanya, dan ayah bagi anak - anaknya. Inilah dunia yang baru.

Wahai anak perempuanku, inilah masa kini dan masa mendatangmu. Inilah keluargamu yang akan kamu bangun berdua bersama dengan suamimu. Sesungguhnya ibu tidak meminta agar melupakan ayah dan ibumu serta saudara - saudara mu, karena sesungguhnya mereka tidak akan melupakanmu selamanya, wahai sayangku. Bagaimana bisa seorang ibu melupakan belahan hatinya ? Akan tetapi, ibu meminta kepadamu agar cintailah suamimu, hiduplah bersamanya, dan jalanilah hidupmu dengan bahagia bersamanya."

Ambilah teladan dari Asiah karena Kesabarannya
Ambilah teladan dari Khadijah karena Kesetiaanya
Ambilah teladan dari Aisyah karena Kejujurannya
Ambilah teladan dari Fatimah karena Keteguhannya

Kesenangan dan kesusahan dilewati bersama.. saat seorang wanita telah di nikahi oleh lelakinya, sesungguhnya Surganya bukan hanya pada ibunya saja, melaikan ada pada kepatuhan terhadap suaminya :))


 by : Wahai Kaum Wanita, Jadilah Wanita Yang Paling Bahagia :))