Jumat, 01 Maret 2013

Analogi Kehidupan !



Dalam kesendirian, dunia terasa semu dan bisu..
Teringat masa – masa keindahan dan kelam memutar memori jiwa..
Emosi tak tentu meliputi rasa..
Hidup terkadang kejam, atau bahkan memang kejam..
Ibarat sebuah perahu yang berlayar dari dermaga..
Ada rasa senang kala itu..
Menahkoda-kan kehidupan sendiri..
Tangan melambai – lambai ke arah dermaga diiringi senyum bahagia..
Perlahan perahu berjalan dengan ombak yang masih ramah..
Seiringan dengan berlayarnya perahu, ombak yang tadi ramah menjadi marah..
Senyum diwajah berubah dengan kerutan alis keheranan..
Disitulah perahu mulai goyah, pontang – panting berusaha menjadi tenang..
Angin yang dulu bersahabat, kini mulai menusuk dari belakang..
Berusaha sekuat tenaga agar bisa mengarungi samudera yang luas itu..
Angin, ombak, hujan seperti begabung menjadi satu menghalau pelayaran..
Tetesan air mata menjadi saksi kesengsaraan jiwa..
Sampai akhirnya pada suatu waktu, perahu itu kembali tenang..
Angin dan ombak pun bersatu kembali dengan cuaca laut yang kembali bersahabat..
Hujan lama – lama berhenti, seiring dengan langit yang kembali tersenyum..
Hati kembali tenang, bersyukur dan menangis bahagia..
Yaa, itulah hidup dan kehidupan..
Hidup hanya untuk ke-egois-an diri..
Dan kehidupan untuk bersama dalam sosial yang harmonis..
Egois memang, saat kita mencoba me-nahkoda-kan perahu agar berlayar dengan penuh keyakinan tapi tanpa di iringi pengalaman dan ilmu kehidupan..
Tapi itulah tuntutan agar kemandirian menyertai pribadi kita..
Kehidupan senantiasa mengikuti ..
Berubah – ubah, kadang selaras dengan keinginan atau malah berbanding terbalik dengan harapan ???
Hujan atau badai, angin dan ombak menjadi tiang – tiang saksi penopang kehidupan yang kadang bersahabat atau kadang berubah menjadi sebaliknya..
Hidup dan kehidupan..mempunyai makna yang sangat berarti tanpa batas bahkan tanpa arah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar