Dalam kesendirian, dunia terasa semu dan bisu..
Teringat masa – masa keindahan dan kelam memutar memori
jiwa..
Emosi tak tentu meliputi rasa..
Hidup terkadang kejam, atau bahkan memang kejam..
Ibarat sebuah perahu yang berlayar dari dermaga..
Ada rasa senang kala itu..
Menahkoda-kan kehidupan sendiri..
Tangan melambai – lambai ke arah dermaga diiringi senyum
bahagia..
Perlahan perahu berjalan dengan ombak yang masih ramah..
Seiringan dengan berlayarnya perahu, ombak yang tadi ramah
menjadi marah..
Senyum diwajah berubah dengan kerutan alis keheranan..
Disitulah perahu mulai goyah, pontang – panting berusaha
menjadi tenang..
Angin yang dulu bersahabat, kini mulai menusuk dari
belakang..
Berusaha sekuat tenaga agar bisa mengarungi samudera yang
luas itu..
Angin, ombak, hujan seperti begabung menjadi satu menghalau
pelayaran..
Tetesan air mata menjadi saksi kesengsaraan jiwa..
Sampai akhirnya pada suatu waktu, perahu itu kembali tenang..
Angin dan ombak pun bersatu kembali dengan cuaca laut yang
kembali bersahabat..
Hujan lama – lama berhenti, seiring dengan langit yang
kembali tersenyum..
Hati kembali tenang, bersyukur dan menangis bahagia..
Yaa, itulah hidup dan kehidupan..
Hidup hanya untuk ke-egois-an diri..
Dan kehidupan untuk bersama dalam sosial yang harmonis..
Egois memang, saat kita mencoba me-nahkoda-kan perahu agar
berlayar dengan penuh keyakinan tapi tanpa di iringi pengalaman dan ilmu
kehidupan..
Tapi itulah tuntutan agar kemandirian menyertai pribadi
kita..
Kehidupan senantiasa mengikuti ..
Berubah – ubah, kadang selaras dengan keinginan atau malah
berbanding terbalik dengan harapan ???
Hujan atau badai, angin dan ombak menjadi tiang – tiang saksi
penopang kehidupan yang kadang bersahabat atau kadang berubah menjadi
sebaliknya..
Hidup dan kehidupan..mempunyai makna yang sangat berarti
tanpa batas bahkan tanpa arah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar