Jumat, 22 Maret 2013

Perbedaan itu indah


Hari demi hari sudah terlewati ditempat ini, banyak kejadian yang hadir disetiap harinya.. Aku memang tidak kuliah di institusi besar seperti UI, ITB, ITS, UGM, UNPAD atau yang lainnya, kampusku juga sudah berbeda statusnya dengan STAN, STIS, STSN, STP atau sejenisnya yang berstatus sekolah tinggi kedinasan, yaa walaupun kampus ku berstatus sama dulu..Aku juga bukan dari STAIN atau institusi perguruan tinggi keislaman.. Aku menuntut ilmu, di bilangan Jakarta Selatan, tepatnya di kebayoran Baru, pas belakang RSPP Jakarta, Poltekkes Kemenkes Jakarta II Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Disebuah pemukiman penduduk Jakarta, yang mungkin sangat bertolak belakang sekali saat aku datang kesini. Kenapa ? yup, tepat dibelakang RSPP yang ‘notabene’ salah satu RS besar di Indonesia, ada pemukiman penduduk atas dengan rumah berderet rapih, bertembok tinggi, pagar yang sangat tegas dengan berjajar mobil – mobil mewah, dan pastinya juga dilengkapi pekarangan hijau nan sejuk di depan rumah, tapi ada kesepian disini, hening tanpa suara. Yang aku dengar hanya suara – suara pagar tegas mereka berbunyi saat dibuka, dan bunyi suara klakson mobil, tanpa ada kata terucap.. Tapi disisi lain, masih ada pemukiman penduduk yang sederhana, berajajar dempet, dengan tembok cukup kokoh dan pagar pembatas yang cukup sederhana juga. Mereka sangat kekeluargaan, ramah, kompak dan terdapat jiwa – jiwa pembangun untuk sesama.
Bisa dikatakan, kampusku lah yang mungkin jadi pembatas wilayah diantara keduanya. Saat aku berjalan, melangkahkan kaki ke depan sudah pasti terlihat hilir mudik mobil tanpa henti, tapi saat aku keluar dan melangkahkan kaki ke belakang sudah terlihat anak – anak kecil yang bermain – main, ditemani ibu – ibu yang sedang berkumpul dan bercerita riang. Sungguh keramaian yang sederhana tapi ini istimewa. Suara – suara mereka mewarnai perkuliahan dikampus ku. Penduduk yang ramah dan murah senyum itu, menemani kami setiap harinya.
Aku tidak tahu, apakah teman – teman ku sadar akan keadaan ini atau tidak ? Tapi yang jelas, pasti mereka tahu. Semakin aku yakin, bahwa ini adalah tempat terbaik yang Allah kasih untuk ku menuntut ilmu. Aku seperti berada ditengah – tengah, yaa.. saat aku menatap ke atas aku terbayang seperti mereka, tapi Allah menyadarkan kecongkakan ku seketika untuk tetap ingat mereka yang tidak seberuntung orang – orang diatas itu.
Aku sadar keadaan ini bukan untuk dibanding – bandingkan, bukan untuk dipilih atau untuk selalu jadi topik dalam kehidupan. Tapi keadaan ini secara tidak langsung, memberi gambaran indah dalam hidupku. Yaa, sangat indah, karena Allah gak mau aku sombong ataupun menyerah, aku bersyukur dengan keadaan ini, karena disinilah aku jadi bisa menangkap kehidupan yang sesungguhnya. Kawan, tanpa adanya perbedaan kita tidak tahu mana yang sama, perbedaan tidak pernah salah, mungkin hanya sudut pandang kita saja yang berbeda. Hanya ketaqwaan-lah yang menjadi pembeda abadi antara satu manusia dengan manusia yang lain.
Aku berharap untuk selanjutnya, aku tetap berada dalam garis tengah kehidupan. Yaa, agar aku bisa melihat ke atas dan tidak lupa menunduk ke bawah, agar aku bisa melihat kedepan tanpa melupakan yang lalu. Karena hidup itu bukan sekedar untuk ‘sukses’ saja, tapi harus bermanfaat bagi orang lain. Kalau kata Pak Jamil Azzaini, bahwa hidup itu harus SUKSES MULIA, selain sukses juga harus mulia agar bermanfaat bagi orang – orang sekitar. Seperti sabda Rasulullah SAW “………Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)

khairunnas anfa'uhum linnas ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar