Haaaiii malam ini aku akan
berkisah tentang mereka yang berjuang kuat untuk hidup..
Terkadang saat aku berjalan menyusuri tempat tujuan kemana
entah yang ingin aku tuju, baik ke kampus, ke masjid, ke rumah teman atau
pulang dari suatu tempat. Setapak demi setapak aku melangkah, kedua mata ini
tertuju kesemua arah. Melihat setiap sudut tempat yang aku pijak.
Apa yang aku lihat, terekam dan terasa dalam hati dan ingatan
ku. Entah aku melihat mereka yang sedang menyemir sepatu, mereka yang sedang
mengadahkan tangannya meminta sedikit pemberian dari manusia lain, mereka yang
berjalan dengan satu tongkat, mereka yang berjalan meraba – raba, mereka yang
tidur di sudut tiang jalan, mereka yang memegang gitar dan kecrekan, para
pedagang yang diam menanti pembeli, fenomena – fenomena seorang ibu yang
memarahi anaknya karena menangis terus bahkan di salah satu stasiun di tengah
kota ada suami – istri yang tidak bisa melihat dengan memiliki 4 orang anak
yang Alhamdulillah bisa melihat dengan anak yang paling kecil berada pada
gendongan kain lusuh sang ibu dan masih banyak lagi mereka – mereka yang tidak
seberuntung kita.
Saat di metromini, di dalam kereta ekonomi, distasiun, di
sudut – sudut jalan dan pasar, dan banyak lagi tempat – tempat yang aku temui. Tidak
sampai disitu, para pelayan atau pesuruh pekerja kasar yang ternyata mereka
rela meninggalkan keluarga yang dicintainya demi sesuap nasi dan selembar uang
sepuluh ribu. Tidak sebanding bukan dengan perasaan yang mereka korbankan demi
nilai uang yang hanya sepuluh ribu ???
Kadang aku terdiam dan tertegun, memikirkan perasaan mereka.
Yaaa baru hanya bisa memikirkan belum bisa membantu. Ingin rasanya mengajak
mereka membuat suatu koperasi agar hidup dan martabat mereka lebih layak. Bagaimana
mereka memikirkan “apa yang mau dibeli nanti ?”, “nanti di mall enaknya makan
apaa yaa ?”, atau “beli baju yang paling bagus dimana ya ?” karena dengan sudah
bisa makan dua kali dalam sehari saja sudah sangat hebat untuk mereka.
Tapi ternyata Allah mengaruniakan hati yang lapang dan kuat
untuk mereka menjalani kejamnya hidup. Perasaan ku seolah terbawa bagaimana
jika aku seperti mereka ?? tapi kenapa manusia bahkan termasuk diriku sendiri
masih belum bisa bersyukur total atas karunia dan keberuntungan yang dimiliki ?
memang sifat insan itu tidak pernah puas dan menjadi tempat yang salah.
Kawan, hidup itu indah bagi kita tapi belum tentu indah bagi
mereka. Mereka tidak pernah memikirkan kebahagiaan, yang mereka pikirkan adalah
sebungkus nasi agar tidak lapar. Pikiran mereka hanya terbatas pada apa yang
mereka makan, tidak untuk hal – hal lain diluar itu. Kata siapa mereka tidak
punya mimpi ?? mereka justru sangat pede dengan mimpi – mimpi mereka. Saat aku
selesai melaksanakan sholat Ashar di salah satu stasiun ketika hendak menunggu
kereta, sekelompok anak kecil sambil memegang bekas botol aqua yang berisi batu
– batu kecil untuk dijadikan kecrekan yang aku perkirakan berumur kurang lebih 6 sampai 9 tahun, menceritakan apa cita – cita mereka. Salah satu anak itu
bilang “aku ingin jadi ibu guru, biar
bisa ngerasain naik kereta AC”. Aku tertegun, diam dan miris. Mereka
bilang “ingin jadi guru biar bisa naik kereta AC”. Sedang aku ?? aku bisa
sesuka hati ku ingin naik kereta AC kapan saja dengan tujuan yang aku inginkan
tanpa harus mencari uang dulu atau bahkan menjadi guru. Cita – cita mereka sungguh
sangat mulia dan sederhana bukan ??
Seketika mata ini berair, menetes perlahan. Sungguh sampai
pada dasar hati, perkataan tulus dan polosnya anak kecil pinggir jalan itu. Sungguh
ini benar – benar pembelajaran yang amat berarti dan tidak akan pernah
terlupakan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini .. Aamiin
Dari ingatan dan hati yang masih lumpuh, kadang terlupa betapa besar karunia - Nya menghampiri setiap hati - hati insan yang tidak pernah luput dari kesalahan
Dari ingatan dan hati yang masih lumpuh, kadang terlupa betapa besar karunia - Nya menghampiri setiap hati - hati insan yang tidak pernah luput dari kesalahan

