Senin, 13 Mei 2013

Di sepanjang kaki ini berjalan ...


Haaaiii malam ini aku akan berkisah tentang mereka yang berjuang kuat untuk hidup..
Terkadang saat aku berjalan menyusuri tempat tujuan kemana entah yang ingin aku tuju, baik ke kampus, ke masjid, ke rumah teman atau pulang dari suatu tempat. Setapak demi setapak aku melangkah, kedua mata ini tertuju kesemua arah. Melihat setiap sudut tempat yang aku pijak.
Apa yang aku lihat, terekam dan terasa dalam hati dan ingatan ku. Entah aku melihat mereka yang sedang menyemir sepatu, mereka yang sedang mengadahkan tangannya meminta sedikit pemberian dari manusia lain, mereka yang berjalan dengan satu tongkat, mereka yang berjalan meraba – raba, mereka yang tidur di sudut tiang jalan, mereka yang memegang gitar dan kecrekan, para pedagang yang diam menanti pembeli, fenomena – fenomena seorang ibu yang memarahi anaknya karena menangis terus bahkan di salah satu stasiun di tengah kota ada suami – istri yang tidak bisa melihat dengan memiliki 4 orang anak yang Alhamdulillah bisa melihat dengan anak yang paling kecil berada pada gendongan kain lusuh sang ibu dan masih banyak lagi mereka – mereka yang tidak seberuntung kita.
Saat di metromini, di dalam kereta ekonomi, distasiun, di sudut – sudut jalan dan pasar, dan banyak lagi tempat – tempat yang aku temui. Tidak sampai disitu, para pelayan atau pesuruh pekerja kasar yang ternyata mereka rela meninggalkan keluarga yang dicintainya demi sesuap nasi dan selembar uang sepuluh ribu. Tidak sebanding bukan dengan perasaan yang mereka korbankan demi nilai uang yang hanya sepuluh ribu ???
Kadang aku terdiam dan tertegun, memikirkan perasaan mereka. Yaaa baru hanya bisa memikirkan belum bisa membantu. Ingin rasanya mengajak mereka membuat suatu koperasi agar hidup dan martabat mereka lebih layak. Bagaimana mereka memikirkan “apa yang mau dibeli nanti ?”, “nanti di mall enaknya makan apaa yaa ?”, atau “beli baju yang paling bagus dimana ya ?” karena dengan sudah bisa makan dua kali dalam sehari saja sudah sangat hebat untuk mereka.
Tapi ternyata Allah mengaruniakan hati yang lapang dan kuat untuk mereka menjalani kejamnya hidup. Perasaan ku seolah terbawa bagaimana jika aku seperti mereka ?? tapi kenapa manusia bahkan termasuk diriku sendiri masih belum bisa bersyukur total atas karunia dan keberuntungan yang dimiliki ? memang sifat insan itu tidak pernah puas dan menjadi tempat yang salah.
Kawan, hidup itu indah bagi kita tapi belum tentu indah bagi mereka. Mereka tidak pernah memikirkan kebahagiaan, yang mereka pikirkan adalah sebungkus nasi agar tidak lapar. Pikiran mereka hanya terbatas pada apa yang mereka makan, tidak untuk hal – hal lain diluar itu. Kata siapa mereka tidak punya mimpi ?? mereka justru sangat pede dengan mimpi – mimpi mereka. Saat aku selesai melaksanakan sholat Ashar di salah satu stasiun ketika hendak menunggu kereta, sekelompok anak kecil sambil memegang bekas botol aqua yang berisi batu – batu kecil untuk dijadikan kecrekan yang aku perkirakan berumur kurang lebih 6 sampai 9 tahun, menceritakan apa cita – cita mereka. Salah satu anak itu bilang “aku ingin jadi ibu guru, biar  bisa ngerasain naik kereta AC”. Aku tertegun, diam dan miris. Mereka bilang “ingin jadi guru biar bisa naik kereta AC”. Sedang aku ?? aku bisa sesuka hati ku ingin naik kereta AC kapan saja dengan tujuan yang aku inginkan tanpa harus mencari uang dulu atau bahkan menjadi guru. Cita – cita mereka sungguh sangat mulia dan sederhana bukan ??
Seketika mata ini berair, menetes perlahan. Sungguh sampai pada dasar hati, perkataan tulus dan polosnya anak kecil pinggir jalan itu. Sungguh ini benar – benar pembelajaran yang amat berarti dan tidak akan pernah terlupakan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini .. Aamiin

Dari ingatan dan hati yang masih lumpuh, kadang terlupa betapa besar karunia - Nya menghampiri setiap hati - hati insan yang tidak pernah luput dari kesalahan 

Jumat, 22 Maret 2013

Perbedaan itu indah


Hari demi hari sudah terlewati ditempat ini, banyak kejadian yang hadir disetiap harinya.. Aku memang tidak kuliah di institusi besar seperti UI, ITB, ITS, UGM, UNPAD atau yang lainnya, kampusku juga sudah berbeda statusnya dengan STAN, STIS, STSN, STP atau sejenisnya yang berstatus sekolah tinggi kedinasan, yaa walaupun kampus ku berstatus sama dulu..Aku juga bukan dari STAIN atau institusi perguruan tinggi keislaman.. Aku menuntut ilmu, di bilangan Jakarta Selatan, tepatnya di kebayoran Baru, pas belakang RSPP Jakarta, Poltekkes Kemenkes Jakarta II Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Disebuah pemukiman penduduk Jakarta, yang mungkin sangat bertolak belakang sekali saat aku datang kesini. Kenapa ? yup, tepat dibelakang RSPP yang ‘notabene’ salah satu RS besar di Indonesia, ada pemukiman penduduk atas dengan rumah berderet rapih, bertembok tinggi, pagar yang sangat tegas dengan berjajar mobil – mobil mewah, dan pastinya juga dilengkapi pekarangan hijau nan sejuk di depan rumah, tapi ada kesepian disini, hening tanpa suara. Yang aku dengar hanya suara – suara pagar tegas mereka berbunyi saat dibuka, dan bunyi suara klakson mobil, tanpa ada kata terucap.. Tapi disisi lain, masih ada pemukiman penduduk yang sederhana, berajajar dempet, dengan tembok cukup kokoh dan pagar pembatas yang cukup sederhana juga. Mereka sangat kekeluargaan, ramah, kompak dan terdapat jiwa – jiwa pembangun untuk sesama.
Bisa dikatakan, kampusku lah yang mungkin jadi pembatas wilayah diantara keduanya. Saat aku berjalan, melangkahkan kaki ke depan sudah pasti terlihat hilir mudik mobil tanpa henti, tapi saat aku keluar dan melangkahkan kaki ke belakang sudah terlihat anak – anak kecil yang bermain – main, ditemani ibu – ibu yang sedang berkumpul dan bercerita riang. Sungguh keramaian yang sederhana tapi ini istimewa. Suara – suara mereka mewarnai perkuliahan dikampus ku. Penduduk yang ramah dan murah senyum itu, menemani kami setiap harinya.
Aku tidak tahu, apakah teman – teman ku sadar akan keadaan ini atau tidak ? Tapi yang jelas, pasti mereka tahu. Semakin aku yakin, bahwa ini adalah tempat terbaik yang Allah kasih untuk ku menuntut ilmu. Aku seperti berada ditengah – tengah, yaa.. saat aku menatap ke atas aku terbayang seperti mereka, tapi Allah menyadarkan kecongkakan ku seketika untuk tetap ingat mereka yang tidak seberuntung orang – orang diatas itu.
Aku sadar keadaan ini bukan untuk dibanding – bandingkan, bukan untuk dipilih atau untuk selalu jadi topik dalam kehidupan. Tapi keadaan ini secara tidak langsung, memberi gambaran indah dalam hidupku. Yaa, sangat indah, karena Allah gak mau aku sombong ataupun menyerah, aku bersyukur dengan keadaan ini, karena disinilah aku jadi bisa menangkap kehidupan yang sesungguhnya. Kawan, tanpa adanya perbedaan kita tidak tahu mana yang sama, perbedaan tidak pernah salah, mungkin hanya sudut pandang kita saja yang berbeda. Hanya ketaqwaan-lah yang menjadi pembeda abadi antara satu manusia dengan manusia yang lain.
Aku berharap untuk selanjutnya, aku tetap berada dalam garis tengah kehidupan. Yaa, agar aku bisa melihat ke atas dan tidak lupa menunduk ke bawah, agar aku bisa melihat kedepan tanpa melupakan yang lalu. Karena hidup itu bukan sekedar untuk ‘sukses’ saja, tapi harus bermanfaat bagi orang lain. Kalau kata Pak Jamil Azzaini, bahwa hidup itu harus SUKSES MULIA, selain sukses juga harus mulia agar bermanfaat bagi orang – orang sekitar. Seperti sabda Rasulullah SAW “………Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)

khairunnas anfa'uhum linnas ..

Jumat, 01 Maret 2013

Tentang Hidup dan Makna Kehidupan



Setiap manusia di dunia, pasti punya cerita dalam hidupnya. Tapi tidak semua diantara mereka bisa memanfaatkan kesempatan untuk merubah cerita itu menjadi sebuah kisah. Mungkin salah satunya adalah aku, manusia yang sedang berusaha merubah perjalanan cerita dalam hidupku untuk menjadi sebuah kisah. Ya, sebuah kisah yang mungkin anggapan orang lain bahwa hal ini sepele. Tapi tidak dengan aku yang merasakan sendiri perjalanan hidupku ini. Kisah ini sangat berharga dan pastinya sangat menentukan jati diriku sekarang bahkan masa depan.
Terlahir sebagai anak perempuan pertama dan cucu pertama di keluarga mama, walau dikeluarga ayah mendapat predikat cucu kedua. Latar belakang keluarga yang sederhana tapi istimewa menurut ku Subhanallah .. tak henti – hentinya aku bersyukur untuk karunia kedua dari Allah ini. Ya, karunia kedua karena karunia pertamanya adalah saat Allah menakdirkan aku berada dalam rahim wanita yang sangat amat hebat ! Dia adalah mama ku, wanita yang benar – benar super bahkan sangat dan tidak ada yang menandinginya, dialah mama ku 
Tak jarang ketika ingin tidur, aku teringat semua perjuangan beliau terhadap ku sampai akhirnya ku meneteskan air mata di tengah kegelapan kamar kecil nan mungil ku itu. Mama adalah makhluk ciptaan Allah yang pasti bisa mengerti kegelisahan anaknya. Seorang mama tidak bisa dibohongi, batinnya begitu kuat sekali terhadap anaknya dibanding terhadap suaminya sendiri. Seorang ayah pun punya predikat yang sama, tak kalah hebatnya dengan mama. Melalui ayah kita diajarkan ketegasan dalam mengambil keputusan, kita diajarkan bahwa hidup ini keras dan butuh perjuangan, kita diarahkan menjadi sesosok manusia sesuai dengan kadarnya. Bersama ayah dan mama, aku dan adik ku mengarungi hari demi hari menuju kedewasaan dan menjemput masa depan. Berkat mereka lah kita bisa jadi sampai sekarang ini, karena bimbingannya selalu kita butuhkan bahkan batinnya tidak akan pernah putus.

Cerita hidup yang menjadi kisah itu pasti akan terkenang sebagai kenangan yang sangat indah. Sepahit apapun kehidupan yang kita jalani, pasti kisahnya akan tetap indah. Dunia ini serasa sempit, saat kita hanya bisa melihat suatu peristiwa dalam satu pandangan yang monoton. Namun, setelah membuka mata ternyata dunia ini sangatlah luas. Luas akan keberagamannya yang penuh dengan tantangan dan perjuangan.
Sepertinya semua yang kita alami selama ini, tidak akan cukup tertulis dengan tinta hitam diatas kertas bersih ini. Tapi hati yang memiliki rasa mampu menyimpan itu semua di memoar khusus pikiran kita. Pertanyaan – pertanyaan yang sering terbesit didalam benak ku adalah ketika aku bertanya pada hati ku sendiri, kapan bisa membuat mama dan ayah benar – benar bangga ? kapan bisa jadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ? kapan memiliki hati yang bersih tanpa prasangka ? Kapan bisa jadi muslimah yang benar – benar sejati ? kapan dikasih kesempatan untuk menjadi seorang ibu ? kapan bisa melengkapi separuh dien dari seorang suami yang diridhoi Allah SWT ? kapan bisa membentuk keluarga yang Islami ? kapan melahirkan generasi – generasi hafiz dan hafizah ? dan sangat banyak lagiiiiiii…. bisakah semua ??? yaa, tanda tanya besar yang memang harus benar – benar ditempuh dengan perjuangan yang sebenar – benarnya perjuangan.

Hidup ini keras, hidup ini butuh perjuangan dan terkadang menuntut pengorbanan, hidup ini anugerah sekaligus cobaan, hidup ini adalah tantangan yang penuh resiko, hidup ini belajar untuk ikhlas dan syukur atas apa yang diterima selama ini, hidup ini memaksa kita untuk bersabar, hidup ini indah sekaligus suram, hidup ini meminta kepastian dari pilihan yang tersedia, hidup ini butuh keyakinan, hidup ini belajar berjalan dari jatuh – bangun – jatuh dan bangun kembali, hidup ini berisi ribuan kegagalan sekaligus jutaan keberhasilan, hidup ini puitis sekaligus romantis, hidup ini bagai lembaran buku kosong yang telah disediakan pulpen diatasnya dan terserah coretan apa yang akan dituangkan, hidup ini rahasia sekaligus misterius, hidup ini penuh makna dan rasa yang tersimpan dihari nanti, dan hidup ini penuh cinta dan kasih sayang karena tanpa cinta hidup kosong terlihat tidak istimewa, karena tanpa kasih sayang hidup bagai miskin rasa kepedulian terhadap sesame.

Tapi satu yang paling penting dalam hidup ini yaitu ketika kita melihat sekeliling kita entah dimana pun kita berada, dan kita merasa lebih beruntung dibandingkan mereka – mereka yang  berdeda dengan kita. Sesederhana itulah kehidupan. Butuh kepekaan rasa dan pikiran untuk menggapai kesyukuran semata.

Analogi Kehidupan !



Dalam kesendirian, dunia terasa semu dan bisu..
Teringat masa – masa keindahan dan kelam memutar memori jiwa..
Emosi tak tentu meliputi rasa..
Hidup terkadang kejam, atau bahkan memang kejam..
Ibarat sebuah perahu yang berlayar dari dermaga..
Ada rasa senang kala itu..
Menahkoda-kan kehidupan sendiri..
Tangan melambai – lambai ke arah dermaga diiringi senyum bahagia..
Perlahan perahu berjalan dengan ombak yang masih ramah..
Seiringan dengan berlayarnya perahu, ombak yang tadi ramah menjadi marah..
Senyum diwajah berubah dengan kerutan alis keheranan..
Disitulah perahu mulai goyah, pontang – panting berusaha menjadi tenang..
Angin yang dulu bersahabat, kini mulai menusuk dari belakang..
Berusaha sekuat tenaga agar bisa mengarungi samudera yang luas itu..
Angin, ombak, hujan seperti begabung menjadi satu menghalau pelayaran..
Tetesan air mata menjadi saksi kesengsaraan jiwa..
Sampai akhirnya pada suatu waktu, perahu itu kembali tenang..
Angin dan ombak pun bersatu kembali dengan cuaca laut yang kembali bersahabat..
Hujan lama – lama berhenti, seiring dengan langit yang kembali tersenyum..
Hati kembali tenang, bersyukur dan menangis bahagia..
Yaa, itulah hidup dan kehidupan..
Hidup hanya untuk ke-egois-an diri..
Dan kehidupan untuk bersama dalam sosial yang harmonis..
Egois memang, saat kita mencoba me-nahkoda-kan perahu agar berlayar dengan penuh keyakinan tapi tanpa di iringi pengalaman dan ilmu kehidupan..
Tapi itulah tuntutan agar kemandirian menyertai pribadi kita..
Kehidupan senantiasa mengikuti ..
Berubah – ubah, kadang selaras dengan keinginan atau malah berbanding terbalik dengan harapan ???
Hujan atau badai, angin dan ombak menjadi tiang – tiang saksi penopang kehidupan yang kadang bersahabat atau kadang berubah menjadi sebaliknya..
Hidup dan kehidupan..mempunyai makna yang sangat berarti tanpa batas bahkan tanpa arah…

Rabu, 06 Februari 2013

I'm Muslim, say no to Valentine ! "Sorry Valentine, I Am Muslim"



Assalamu’laikum.Wr.Wb.

Ikhwah fillah, bagaimana keadaannya hari ini ? Alhamdulillah, semoga hati ini senantiasa terjaga oleh keimanan dan kesholehan kita semua kepada Allah SWT. Aamiin..Tidak lupa juga cinta kita yang selalu tercurah kepada Rasulullah SAW dan rasa rindu ingin bertemu beliau, semoga Allah SWT mempertemukan kita bersama Rasulullah di akhirat nanti. Aamiin
Kawan, di bulan Februari ini biasaya hampir dari kebanyakan pemuda/i Islam maupun non Islam sedang mempersiapkan atau bahkan merayakan hari kasih sayang yang biasa didengar dengan sebutan “Valentine Day”. Kebanyakan dari pemuda/i Islam yang ikut merayakan, tidak mengerti bagaimana sejarah dan hukum Valentine Day yang selama ini identik sebagai realisasi dari hari kasih sayang terhadap lawan jenis yang belum halal terhadap dirinya. Ini sangat ironis sekali, negara Indonesia yang merupakan salah satu negara Islam terbesar didunia, tapi banyak pemuda/i yang TIDAK TAHU apakah perayaaan ini sesuai dengan syariat agama Islam atau tidak ? Dan bagaimana hukumnya dalam pandangan Islam ?
Ayoo disimak terus ya J
Yup.. sebelum kita mengulas Valentine Day dalam pandangan Agama Islam, yuk kita simak sebenarnya bagaimana si sejarah dari ‘hari kasih sayang’ itu ??
Valentine sebenarnya adalah seseorang yang rela mati demi mempertahankan keyakinan dan kepercayaannya. Ia bergelar Santo atau Saint karena kedermawanannya (St. Valentine). Ia terbunuh pada tanggal 14 Februari 270 M karena pemahaman yang berseberangan tentang keyakinan dan kepercayaan dengan Pemimpin Romawi Raja Claudius II (268 – 270 M). Pada mulanya ini hanya perayaan yang bersifat keagamaan untuk mengenang kematian St. Valentine, namun saat abad 16 M seiring berjalannya waktu, perayaan keagamaan ini mulai pudar dan berubah menjadi jamuan kasih sayang dari kebiasaan bangsa Romawi Kuno yang jatuh pada tanggal 15 Februari.  
Ketika agama Kristen Katolik masuk ke Romawi (saat itu kebanyakan orang – orang Romawi beragama Nasrani) perayaan antara memperingati meninggalnya St. Valentine yang dilambangkan sebagai hari kasih sayang itu dihubungkan dengan kepercayaan orang Eropa saat itu sebagai waktu kasih sayang dan dilambangkan dengan burung jantan dan burung betina.
Yaa akibat maraknya gelombang dan magnet arus globalisasi, sehingga perayaan ini mendunia dan menyeluruh tanpa memandang aspek keagamaan dari berbagai negara. Bagaikan disihir, semua orang berpresepsi hampir sama bahwa tanggal 14 Februari adalah hari kasih sayang yang direalisasikan dengan cara menukar hadiah atau bahkan yang lainnya. Sangat ironis sekali, negara – negara Islam pun tidak melakukan filter informasi tentang hal ini termasuk Indonesia (sebagai salah satu negara Islam terbesar di dunia). Seperti membudaya, sampai sekarang kalangan remaja/i  masih banyak yang merayakannya. 

Lalu, bagimana dengan syariat Islam ? Apakah ada perayaan dengan sejarah seperti itu ?
Islam adalah agama yang sempurna. Semua rumus kehidupan sangat jelas dan rinci di tata oleh syariat – syariat Islam melalui pedoman Al – Qur’an dan As – Sunnah. Subhanallah, Allah Dzat Yang Sangat Mulia, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tak ada keraguan sedikit pun kepada – Nya, mulai dari hal yang sangat kecil hingga yang amat besar Islam mengaturnya dengan indah, sinergis dan adil.
Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut” (Al – Hadist)
Bukan berarti Islam tidak mengajarkan ‘kasih sayang’, justru malah Islam dibangun berdasarkan cinta, damai, kasih sayang dan tanpa paksaan. Islam itu indah, dan keindahan itu hadir karena adanya kasih sayang yang berpondasikan cinta karena Allah SWT.
Rasulullah juga bersabda Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cinta kepada dirinya sendiri”
Ya, bahkan Rasulullah memperintahkan kita untuk saling menyayangi antar sesama tanpa membedakan status apapun. Subhanallah..Islam benar – benar Indah J
Jadi kesimpulannya, perayaan ‘Valentine Day’ tidak sesuai dengan syariat Islam. Intinya, Islam adalah agama kita, dengan kata lain Islam merupakan pedoman hidup kita. Kita tidak bisa lepas dari aturan – aturan Islam. Perayaan Valentin Day bukan bersumber dari Islam, melainkan Valentine Day bersumber mulai dari upacara keagamaan non Islam yang seiring berjalannya waktu berubah menjadi perayaan hari kasih sayang karena budaya barat (Eropa). 
Firman Allah SWT “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al – Imran : 85)
Hukum Merayakan Valentine Day
Sudah sangat jelas, dari uraian diatas. Bahwa perayaan Valentine Day tidak boleh dirayakan umat Islam atau bisa dikatakan sesuatu yang haram. Alasannya :
1) Tidak sesuai dengan syariat Islam
2) Bahwa mengungkapkan rasa kasih sayang kepada sesama, tidak hanya dilakukan pada satu hari saja walaupun itu bersifat spesial. Karena Islam mengajarkan untuk saling menyayangi antar sesama setiap melalui hari – hari dikehidupan ini tidak hanya tanggal 14 Februari saja
3)Islam adalah agama yang diutus untuk mejalin persaudaraan karena Allah SWT
4) Perayaan Valentine Day dirayakan dalam keadaan hura – hura
Firman Allah STW “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS. Al – Baqarah : 120)
Sudah jelas kawan, bahwa tanpa adanya sejarah untuk mengenang St. Valentine dan kebiasaan orang non Islam dalam merealisasikan kasih sayangnya, Islam sudah lebih dulu mengaturnya dengan rinci dan indah. Hari kasih sayang itu tidak hanya jatuh pada tanggal 14 Februari, tapi setiap hari adalah hari yang harus dijalani dengan rasa kasih sayang.
Uhibbukum Fillah J (Mencintai kalian semua karena Allah SWT)

Semoga bermanfaat :) Wassalamu’alaikum.Wr.Wb